Kiat bertanya pada si tunanetra

Dua orang sedang mengobrol
Dua orang sedang mengobrol

Oleh : Dendy Arifianto

           

Suka tidak suka. Mau tidak mau. Di lingkungan sekitar, pasti ada seseorang yang berjalan menggunakan tongkatnya. Memang ada beberapa orang yang berjalan menggunakan tongkat. Selain lansia, dan difabel fisik, ada satu lagi yang berjalan dengan tongkatnya.

            benar, benar, orang seperti itu disebut dengan tunanetra. Atau saya mungkin lebih suka menyebutnya dengan difabel netra. Meskipun, peraturan perundang-undangan menyebutnya dengan disabilitas. Hal itu cuma terms atau istilah saja, lagipula kembali ke si empunya ingin dibilang apa? Mau itu tunanetra, difabel netra, atau disabilitas netra, atau jika ada ungkapan lain, selahkan saja! Asalkan hal itu tidak meninggung yang bersangkutan.

            kembali lagi ke pokok masalah. Kendati mereka menggunakan tongkat, ada kalanya, mereka berjalan, namun seakan-akan mau menabrak atau seperti ingin menyebrang. Padahal mereka hanya ingin mencari sudut pinggiran sesuatu, agar memudahkan untuk berjalan, atau hanya diam di pinggir jalan menunggu ojol atau kawannya yang menjemputnya.

            menafsirkannya seperti itu, jelas, tidak salah. Tapi, masalahnya, lantaran salah mengira-ngira, akibatnya, tindakannya juga salah. Seperti yang saya pernah alami.

            dulu, saya pernah diam-diam di pinggir jalan, menunggu seorang kawan yang akan menjemput. Tiba-tiba, dari kejauhan datanglah seseorang dan langsung menggandeng saya ke seberang jalan. Mau ngomong, “jangan! Saya gak mau nyebrang.” Sudah kepalang tanggung. Karena kaget, saya hanya bisa diam dan pasrah berjalan cepat menuju seberang.

            beru, ketika sampai seberang, mungkin sudah merasa tuntas melaksanakan kebaikan, orang itu pun berucap, “sudah mas, sudah sampai seberang jalan, sekarang tenang saja, saya berbuat begini karena hati saya tergerak untuk membantu orang-orang seperti mas, walau itu cuma menyebrang jalan.”

            tenang! Tenang! Matamu!” Ucap saya dalam hati. Meski begitu, saya tak tinggal diam. Saya pun menyampaikan perihal saya diam di jalan. Namun, ia hanya minta maaf, kemudian pergi tanpa menyebrangkan saya kembali. Duh!

            kasus lain, ketika saya dalam sebuah gedung, dan kebetulan, saya sendirian, otomatis, insting saya ketika berjalan, adalah mencari pinggiran. Hal itu saya lakukan, untuk mempermudah saya mengimajinasikan posisi saya dan bentuk gedung. Jelas anggapan orang-orang, pasti saya akan menabrak sebuah tembok. Maka, dalam hitungan sepersekian detik, ada salah seorang yang berteriak, “awas!”

            “maaf, saya kan bukan orang awas, saya tunanetra, bang!” Dalam hati juga saya sperti itu berucap, tapi saya kasih tanda seru, biar seru, titik.

            peristiwa yang saya alami tersebut, merupakan hasil dari interaksi yang kurang antara orang yang melihat dengan para tunanetra. Ketika interaksinya kurang, maka, sharing pengalaman dan pengetahuan akan terpotong. Akibatnya, asumsi-asumsi yang muncul tidak akan terkonfirmasi dengan baik. Hanya intepretasi individu yang akan bergerak di pikiran masing-masing. Padahal, untuk mengonfirmasi hal tersebut, caranya cukup mudah. Dan cara itu disebut dengan bertanya.

            bertanya merupakan cara untuk mengonfirmasi suatu kebenaran. Cara ini, sudah dilakukan sejak zaman dahulu. Bahkan, mungkin saja, bertanya ini sudah ada sebelum homo sapien menegakan punggungnya.

            sayangnya, dewasa ini, banyak orang yang merasa tegak dengan asumsi, tanpa konfirmasi. Sehingga, tak pelak hal itu berdampak pada orang lain, khususnya tunanetra. Kemudian, hal itu berakhir dengan informasi yang keliru. Dan itu layaknya sebuah kacang yang dijual obral pada pasar digital.

            menurut saya, ini dikarenakan metode bertanya yang tersedia hanya pada kalangan yang mengenyam pendidikan tinggi. Pada fase tersebut, metode bertanya sangat berkembang. Bahkan, kadang, para mahasiswa diminta untuk bertanya dan menemukan masalah sendiri, terus menjawabnya sendiri.

            selain itu, jawaban-jawban akan pertanyaan yang ditanyakan juga tersedia. Jawaban tersebut, bisa muncul dari para pakar seperti dosen dan yang lainnya. Berbanding terbalik. Bagi orang-orang yang ada di kalangan menengah, bukan mereka tak bertanya, namun, proses itu seperti tersekat. Dan model pertanyaannya pun sudah bisa ditebak.

            kecenderungannya adalah bertanya dengan pertanyaan tertutup. Paling simpel, dengan apa dan apakah. Ya, walaupun menurut saya, itu juga dilakukan seorang mahasiswa.

            kalau bertanya dengan apa dan apakah, pasti jawabannya adalah ya dan tidak. Ketika bertanya seperti itu, akibatnya akan canggung dan sebuah obrolan tak berkembang. Contoh, pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke tunanetra, ketika pertama kali bertemu dengannya, “apa ada yang bisa saya bantu?” Atau “apakah ada yang bisa saya bantu?”

            ketika pertama kali kenal, saya akan menjawab, “tidak.” Karena, terkadang saya merasa tidak nyaman. Dengan begitu, obrolan akan terhenti, dan orang yang tadi akan membantu juga akan pergi.

            beda ceritanya, ketika bertanya-nya dengan pertanyaan terbuka seperti, “sampean mau ke mana?” Kemudian, si tunanetra itu menjawab, “ke gedung serbaguna.” Nah, ketika tahu, jangan langsung diserang dengan apakah bisa saya bantu? Kalau bisa, meskipun pura-pura, jangan menunjukan itu. Gunakan saja tawaran yang seperti ini,”bareng saja, ebetulan saya mau ke sana.”Kedengarannya, memang seperti sok kenal sok dekat alias sksd. Tapi, itu tidak masalah. Karena, dengan begitu, interaksi akan semakin dekat dan berbagi informasi tentang keduanya akan berlanjut.

            kalau sudah berlanjut, maka gunakanlah terus pertanyaan-pertanyaan, seperti bagaimana, kenapa, bagaimana, kenapa, kadang diselingi, di mana, dan kapan itu juga perlu. Ya, walaupun, apa dan apakah itu kadang juga mencuat di tengah-tengah obrolan, tapi itu tak masalah.

            serius itu tak masalah, karena aslinya, obrolan itu yang penting mengalir terus. Sehingga, orang yang bercuap-cuap ria, akan mengetahui tujuan dan apa yang dibutuhkan masing-masing tukang ngobrol tersebut. Cuman, terasa lebih bijak, kalau pertanyaan tertutup itu digunakan ketika di tengah obrolan, sebagai pelengkap.

            terakhir, kalau pun tulisan ini dianggapnya, meragukan, atau hanya asumsi belaka, lalu ada pendapat yang lebih akurat, silahkan,karena saya terbuka dengan hal itu. Walaupun begitu, sedikit saya ceritakan kompetensi saya. Pertama, saya adalah si tunanetra itu. Jadi, pengalaman saya ketika ditanya orang menjadi memori yang saya miliki. Mungkin juga, memori kolektif semua tunanetra di manapun berada. Kedua, saya pernah mengikuti pelatihan yang mengharuskan saya untuk bertanya dan mendengarkan aktif.

            ketika awal saya mengikuti itu, kecenderungan saya adalah bertanya dengan pertanyaan tertutup, dan itu sangat susah dirubah. Bahkan, sampai sekarang, saya tanpa tersadar juga bertanya, apa dan apakah. Sehingga, saran saya, untuk membiasakan diri dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka tersebut. Maka, berlatihlah dengan siapapun. Kalau bisa carilah Seorang tunanetra, kemudian ajaklah untuk bercuap ria.

#PertuniKabupatenpasuruan, #KiatBertanyaPadaSiTunanetra, #Esai, #TunanetraBisa, #TunanetraBerkarya,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *