Difabel dan Tantangan Mencari Pasangan

foto tongkat
Tongkat Tunanetra

           

Oleh : Dendy Arifianto

Semenjak saya jadi difabel netra, disabilitas netra, atau tunanetra. Baru kerasa, kalau mencari pasangan itu jadi agenda yang agak mundur. Beneran susah banget! Ada-ada aja gitu halangannya. Apalagi orang yang berwenang malah kurang support.

            Suatu hari, Menteri Koordinator Kesejahteraan, Muhajir Efendy, meminta Kementrian Agama untuk mengeluarkan fatwa tentang nikah lintas dimensi. Himbauannya begini, “Yang miskin wajib cari yang kaya, yang kaya wajib cari yang miskin.” Lah, terus yang cari difabel, siapa?

            Benar, benar, gara-gara konsep pasangan ideal, oleh  para calon mertua difabel sering tersingkir dari persaingan. Ideal itu semisal suami itu dianggap mampu melindungi, memajukan, dan menghormati ekosistem keluarganya. Itu artinya, suami ada kala dibutuhkan. Contoh, Istri mau lahiran suami harus siap  siaga, atau calon mertua bosan, tentu perlu Suami yang bisa nyetir mobil biar bisa jalan-jalan. Bisa juga, ketika pelajaran kesenian si anak minta bantuan bapak buat gambar,sedangkan si Bapak tak dapat melihat dengan jelas. Kalau Si Istri, selain hal itu semua, mungkin bisa ditambah dengan pekerjaan domestik.

            Jika Sang Istri tak dapat melihat, atau tak bisa mendengar, atau berkursi roda, mungkin juga ada yang tangannya Cuma satu, lantas bagaimana mereka dapat mengurusi keluarganya? Bukan bermaksud julit. Tapi anggapan itu memang ada. Kalau mau dibilang kenyataan itu pahit, ya itu benar adanya.

            Hanya sekitar 2% orang mengaku pernah berpacaran atau menikah dengan difabel. Artinya,  98 % mayoritas orang tak pernah berpasangan dengan difabel. Belum lagi pandangan orang tua terhadap difabel. Sekitar 35 % para orang tua tidak memperbolehkan anaknya berpasangan dengan difabel. Ditambah lagi dengan kemauan anak para orang tua untuk berpasangan dengan difabel 56 % mengaku tidak mau pacaran dengan difabel. Begitu menurut Slamet Tohari, dalam penelitiannya tentang Pandangan Disabilitas dan Aksesibilitas Fasilitas Publik Bagi Penyandang Disabilitas di Kota Malang.

            Memilukan, bukan? Lebih jauh, Pak Suryanto, Kawan saya, Difabel netra juga, bercerita ke saya. Pada suatu forum orang-orang sedang membahas tentang hak-hak difabel. Termasuk di situ tentang hak menikah. Awalnya sang pemateri dari suatu instansi pemerintah menjelaskan jika kita semua harus memperjuangkan hak difabel, bagaimanapun caranya. Kemudian, Suryanto pun mengangkat tangannya dan bertanya, “Baik, jika semua siap berjuang untuk difabel, kalau begitu, siapa yang siap menikah atau menikahkan anaknya dengan difabel?”

            Udara seketika serasa keluar dari ruangan. Orang-orang terngangah kala mendengar itu. Ada pula yang diam, ada juga yang gelisah. Gresak-gresek di atas kursi peserta. Ada pula yang menahan keinginannya untuk buang hajat. Sebagian orang berbisik-bisik. Namun, tak jelas apa yang diperbincangkan. Kendati demikian, tak ada satu pun orang-orang yang mengankat tangan dan berseru, “Aku siap!” Bahkan sang pemateri Cuma gelagapan dan bergumam tak jelas.

            Memang memilukan. Tapi begitulah adanya. Cukup lama tersegegrasi, tak pelak membuat Sang Romeo dan Sang Juliet menjadi susah untuk menjalin kasih.

            Dalam suatu forum, Peter Carry, seorang sejarahwan, pernah mengungkapkan pandangan masyarakat jawa terhadap kaum difabel kala itu. Masyarakat menganggap para difabel adalah bentukan ilmu hitam, supranatural dan karma. Kederangannya seram, tapi sekarang sudah tak seperti itu. walaupun, saya sangsi.

            Sejak zaman Belanda, para difabel akan “Dinormalkan.” Maksudnya begini, orang Belanda sangat paham dengan sesuatu yang berbau medis.sehingga, para difabel dianggap bukan sesuatu yang normal. Dan harus segera dinormalkan atau difunsikan. Jadi Belanda buat Sekolah Luar Biasa. Lalu, berdirilah SLB pertama di Jawa Barat.

            Jelas sekali Belanda berhasil. Cukup berhasil untuk menarik filanthropi agar berbelas kasih pada difabel.

            Tapi, memang sungguh Belanda berhasil. Selain menarik para Filanthropi, beberapa dari kami sekarang bekerja di sektor informal sebagai terapis. Dan itu sangat baik. Lantas masalahnya di mana?

            Begini, ada ungkapan, saya lupa sapa yang ngomong. Tapi intinya adalah pasangan yang baik itu bukan yang kelihatan melas.

Mau dikata apa? Jika orang merasa kasihan, tentu, saya tidak bisa mengubahnya. Lawong,kasihan itu adanya di pikiran dan hati, terus hamba bisa apa?

Cuman label itu bikin kami agak susah diterima. Itu tadi loh, pasangan yang baik itu bukan yang kelihatan melas. Tentu, keluarganya pasti mikir, kalau yang pria gagah, berani, kharismatic, bisa melindungi dan bla, bla, bla,. Kalau perempuan, pastinya sudah pada tahu kan kayak gimana.

Benar sih, terkadang kasihan bisa jadi faktor juga diterima. Tapi siapa yang tahu, coba?

            Belum lagi, kalau calon mertua seneng sama orang yang pake seragam. Itu kan bikin tambah susah. Pasalnya, hampir semua terapis pijat tidak menggunakan seragam. Kalau saya sih dapat seragam dari kantor. Tapi jarang saya pake juga.

            Selanjutnya, ada ungkapan, “Jodoh itu ditangan Tuhan.” Itu benar dan saya mengakuinya. Namun, biasanya ada terusannya, “Kalau tidak segera didatangi, bisa-bisa ilang.”

            Ketika jodohnya hilang. Lantas butuh berapa lama buat ketemu lagi? Masalahnya, kami, para difabel netra, bisa dibilang,kurang grecep.

            Jangankan sama yang naik Fortuner, Pajero, Ninja, CBR, R 15, Gerobak Sayur, Sepeda ontel dan berbagai benda yang dikategorikan kendaraan. Sama-sama jalan kaki nih, kadang jodoh bisa ilang. Itupun kalau yang dimaksud jodoh yang itu. Kemudian, menarget “Yang mana,” itu pun bisa jadi soal. Namun, agaknya hal ini bisa diantisipasi.

            Saya teringat, Sulis, teman saya, seorang difabel netra, pernah berkata pada saya. “Yang buta kan matanya, bukan rasanya,” katanya sambil ketawa. Maksudnya, menyasar target itu tak hanya sekedar mata melainkan hati. Buyar sudah ungkapan, “Dari mata turun ke hati.”

            Memang rasanya dunia ini tidak adil. Tapi, ketika membicarakan tantangan difabel dalam mencari pasangan hanya dari prespektif Non Difabel. Rasa-rasanya itu juga tidak adil. Lantas, bagaimana difabel juga memandang sesamanya?

            Pernah suatu ketika, Imam (Nama samaran), kawan saya yang difabel netra, menelpon saya. Setelah mengobrol cukup lama, saya bertanya kepadanya perihal jodoh dan calon pasangan.

            “Sampean ingin dapet jodoh yang kayak gimana?” Tanya saya. Kemudian, Imam pun menjawab, “Yang jelas bukan difabel.”

            Dari obrolan itu saya berpikir. Perkara mencari pasangan itu, bagi difabel masih sangat panjang. Pasalnya, tantanganya tidak melulu dari non-difabel atau yang bukan difabel, tapi dari difabelnya sendiri juga memilih pasangan keluar dari kaumnya.

            Memang sih, suatu presepsi tak dapat dipaksakan pada kehendak seseorang ingin seperti apa. Meski begitu, ada kalanya posisi itu berubah. Saya pun begitu. Pasangan saya adalah non difabel atau bukan seorang difabel.

            Namun, waktu siapa yang tahu. Dulu, saya bukan difabel. Lantaran saya kecelakaan saya harus menjadi difabel. Saya kira selama masih ada bencana, konflik bersenjata dan segala hal yang dapat mengganggu keselamatan, difabel akan tetap ada.

            Terkadang pula, ketika menjadi difabel. Banyak kisah dari mereka yang ditinggal oleh pasangannya. Ditinggal tanpa sepucuk surat atau kata-kata terakhirnya. Dan itu dijamin oleh sederet peraturan yang ada.

Orang bilang, apa yang ada di depan manusia hanya jarak. Dan batasnya adalah ufuk. Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh. Yang tertinggal jarak itu juga abadi. Di depan sana ufuk yang itu juga abadi. Begitu menurut Pramoedya Ananta Toer, dalam Anak semua bangsa.

            Mirip halnya dengan kami, para difabel. Orang-orang melihat kami layaknya jarak. Namun jarak itu tak pernah ditempuh. Sehingga, sang ufuk juga tak pernah menjauh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *