Informasi Covid Bagi Tunanetra “Vs” Media Komunikasinya

           

Ilustrasi gambar laptop

Oleh : Dendy Arifianto

Saat-saat seperti ini, informasi merupakan harta yang berharga. Pasalnya, banyak sekali muncul informasi yang kurang akurat mengenai Covid19. Dan pastinya, hal itu akan berimbas pada seseorang. Apalagi jika orang tersebut adalah disabilitas netra atau tunanetra seperti saya.

            Disabilitas netra atau yang kerap disapa tunanetra merupakan orang dengan gangguan penglihatan. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai macam bentuk. Kontribusi yang paling nyata adalah kecelakan. Walaupun konflik bersenjata, gawat darurat kemanusiaan, dan bencana alam juga bisa dipastikan sebagai penyebab munculnya disabilitas. Namun sesuai dengan pengalaman saya, yang divonis mengidap Ablatio Retina di tahun 2011, juga dapat dikategorikan sebagai penyebab bertambahnya disabilitas.

            Kendati saya termasuk kategori buta total, saya tetap dapat mencari informasi tentang Covid 19 secara akurat. Hal itu didukung oleh aplikasi pada gawai saya yang dapat mengubah apapun yang ada di layar menjadi bentuk suara. Dengan begitu, saya dapat berinteraksi dengan gawai saya, seperti laptop dan telepon pintar. Tentu hal itu juga berlaku ketika saya mencari sebuah informasi tentang Covid 19 dalam dunia maya.

            Pastinya, hal itu juga harus didukung dengan sebuah sarana informasi yang aksesibel bagi tunanetra. Ketika sarana informasi tersebut, anggap saja suatu situs mengenai Covid 19, tak dapat diakses oleh kami para tunanetra, maka informasi yang sangat berharga itu tak dapat diserap. Akibatnya sudah jelas, pengetahuan tentang virus tersebut akan berkurang, dan itu dapat membawa para tunanetra ke alam kesumiran.

            Pada tahun 2020, saat awal virus itu terdeteksi masuk ke Indonesia. Banyak sekali, informasi di Internet yang berbentuk gambar. Sehingga, tunanetra seperti saya tak dapat mengakses hal tersebut. Hal itu dibuktikan juga oleh laporan asasmen cepat, “Dampak Covid-19 yang bergerak dan yang terpapar” (2020), menyebutkan sekitar 60% penyandang disabilitas merasa cukup mendapatkan informasi tentang Covid-19. Meski demikian, pemahaman dan pengetahuan tentang pencegahan dan penarapan protokol covid-19 tak berbanding lurus dengan pernyataan tersebut. Penyebabnya, media komunikasi yang kurang akses bagi para disabilitas, khususnya bagi tunanetra.

            Nah, itu yang terjadi di tahun 2020. Lantas, bagaimana keadaan pada tahun 2021?

            Tahun ini, keadaanya lumayan berkembang. Beberapa media informasi seperti situs web, dapat saya akses. Bahkan, fitur pembaca layar yang biasa kami gunakan ditambahkan dengan Optical Charasteristic Recognation (OCR).

OCR merupakan suatu artificial intelegence yang dapat mendeskripsikan sebuah gambar, dan menerjemahkannya ke dalam bentuk suara. Contohnya, ketika ada suatu gambar dalam ruangan, maka OCR akan mendeskripsikannya dan pembaca layar akan membacakan keadaan dalam ruangan seperti apa. Meski hanya sebatas begini, semisal dalam ruangan tersebut terdapat sebuah meja, maka aplikasi tersebut akan berbunyi, “Meja, dalam ruangan.”

            OCR akan lebih bagus ketika mendeskripsikan gambar yang berisi teks. Itu mempermudah kami, para tunanetra untuk mengakses informasi tentang Covid-19 yang tersaji dalam gambar atau foto.

            Kendati begitu, beberapa para tunanetra masih terpapar berita bohong tentang Covid-19. Contohnya, tentang vaksin. Ada yang bilang merusak otak dan ada pula yang bilang, itu adalah perbudakan. Macam-macam pokoknya. Hal itu saya temui di grup WhatsApp dalam komunitas saya. Masalahnya, memang banyak dari kami, yang mensadur informasi tanpa verifikasi. Lalu, imbasnya tentu ke orang lain. Tak hanya Sang tunanetra itu sendiri. Tapi, juga orang lain dan keluarganya.

            Berdasarkan data yang dirilis Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), menyebutkan bahwa ada sekitar 1.700 berita bohong mengenai Covid-19 dan vaksin. Dengan maraknya hal tersebut tak dapat dipungkiri, yang terpapar tak hanya orang melihat, tapi juga orang yang tak dapat melihat. Maka, proteksi dari berita miring itu bagi tunanetra, harus sejalan dengan perlindungan Covid-19. Karena terpapar berita bohong bisa jadi lebih berbahaya daripada terpapar Covid-19. Karenanya pula, nyawa seseorang juga dapat hilang.

            Hingga hari ini, tercatat, sebesar 123.981orang meninggal dunia. Tentu dari puluhan ribu orang yang meninggal tersebut, tak jelas diketahui, jika salah seorangnya dalah tunanetra. Meski begitu, tak perlu menunggu ada kasus seorang tunanetra meninggal disebabkan Covid-19. Karena pada dasarnya, nyawa baik tunanetra atau bukan adalah sama. Maka, penyuluhan informasi mengenai covid-19 perlu di sasar lebih khusus ke komunitas para tunanetra.

            Memang benar, kemutakhiran teknologi tunanetra hari ini berkembang sangat pesat. Namun, sebuah teknologi tak dapat menyentuh layaknya nasihat ibu pada anaknya. Jelas sekali jika salah seorang dari kami luput dari kebenaran Covid-19. Sebab, teknologi pembaca layar tak didukung layaknya suara hangat manusia. Dan mungkin, tunanetra mulai bosan dengan suara pembaca layarnya. Maka, penyampaian informasi secara langsung ke komunitas kami sangat penting. Lantaran, informasi adalah hak bagi semua orang, tanpa terkecuali seseorang dengan gangguan penglihatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *