Pertuni Pasuruan
tunanetra memegang bola dunia

4 Hal yang Jangan Dilakukan Saat Bersama Tunanetra

Ilustrasi gambar : Tunanetra memegang bola dunia

Oleh : Dendy Arifianto

Selain aksesibilitas fisik seperti infrastruktur, aksesibilitas non-fisik juga sama pentingnya bagi tunanetra. Pasalnya bentuk dari aksesibilitas non fisik itu adalah sebuah kesadaran.

            Ketika satu populasi sadar akan tunanetra, maka konstruksi yang dibangun akan lebih ramah untuk tunanetra. Gampangnya begini, bayangkan saja, ada 10 orang dan 9 diantaranya adalah tunanetra, pasti yang seorang itu akan dianggap difabel. Padahal kenyataannya dia bukan difabel.

            Kalau sudah begitu, seluruh fasilitasnya akan menyesuaikan dengan keadaan para tunanetra. Itu kalau mayoritas penduduk dunia adalah tunanetra. Hanya saja, kenyataannya tidak seperti itu.

            Namun, agaknya terlalu extreme, jika menunggu semua orang jadi tunanetra. Karena, pada hakekatnya, ketika seluruh orang disabilities awarness-nya meningkat, maka, aksesbilitas fisik ikut meningkat.

            Untuk itu sebagai langkah awal meningkatkan kesadaran akan difabel. Lebih baik hindari hal-hal berikut saat bersamanya.

1.Rasan-rasan

Rasan-rasan atau ngomongin orang di belakang memang suatu hal yang susah untuk ditahan. Soalnya, kegiatan ini, bisa mempersatukan orang-orang yang terpecah.

      Ketika rasan-rasan, empati antar orang yang rasan-rasan akan terbangun dan menyasar satu target untuk jadi bahan omongan. Bahan omongannya itu bisa macam hal. Mulai dari cara berpakaian, tampang dan termasuk mungkin kebutaan.

      Kendati begitu, para rasaneer harus berhati-hati jika ngomongin orang tunanetra agak terlalu dekat dan mungkin masih dalam satu ruangan. Pasalnya, pendengaran tunanetra itu lebih tajam dan itu bukan mitos.

      Sebuah penelitian di washington, mengungkapkan bahwa otak tunanetra lebih sensitif menangkap suara. Hal ini disebabkan, orang-orang tunanetra cenderung memproses nada dalam bandwith yang lebih sempit dan lebih akurat. Ini menunjukan korteks auditori mereka lebih tersetel sempurna dalam menangkap frekuensi suara.

      Maka dari itu, lebih baik mengusahakan tempat yang lebih jauh kalau memang mau rasan-rasan. Semisal, 10 meter dari tempat tunanetra itu berada. Atau mending, daripada ngomongin orang dibelakang lebih baik langsung disampaikan pada orangnya. Jadi, hal itu bisa jadi evaluasi dari orang tunanetra yang diomongin atau pun orang yang bukan tunanetra.

2. Ghosting

Ghosting adalah salah satu aktifitas paling menyebalkan yang biasanya dilakukan. Mungkin hal ini dilakukan mereka tanpa menyadari akibatnya pada tunanetra. Ketika di-ghosting para tunanetra akan jadi ngaplo, alias salah tingkah dan bingun mau melakukan apa.

Ghosting juga bisa dikatakan fenomena memutuskan komunikasi secara sepihak. Baiasanya terjadi dalam hal percintaan. Namun, bagi tunanetra, hal itu tak melulu soal cinta.

            Begini, ketika sedang mengobrol dengan tunanetra, biasanya tanpa sadar orang yang mengobrol dengannya, tiba-tiba, pergi dan menyisahkan angin dari pergerakannya. Hal itu kemudian dapat diklaim sebagai ghosting. Lantaran interaksi itu sudah terjalin kemudian tunanetranya ngomong sendiri.

            Lebih baik, ketika sedang mengobrol dan memang harus meninggalkan obrolan, disarankan untuk berpamitan atau sekedar ngomong. Hal itu dikarenakan, tunanetra tak dapat melihat orang di depannya. Sehingga, memunculkan suara untuk memberikan tanda kepada tunanetra itu mutlak diperlukan.

            Nah, ketika ada suara sebagai penanda sperti itu, para tunanetra tidak perlu ngomong lagi. Jadi, dengan begitu tunanetra tidak malu apabila tiba-tiba orang yang diajak ngomong jadi kayak hantu.

3. Berjoget

Berjoget memang mengasyikan. Apalagi kalau pikiran lagi susah dan gundah gulana. Namun, ketika itu dilakukan di depan tunanetra, lantas bagaimana?

            “hal itu yang biasa disebut dengan mubazir.”  Dan tenaga yang dikeluarkan terkuras sia-sia. Capek iya, diapresiasi kagak!

            Bisa dibilang berjoget adalah seni. Maka, idealnya seni itu ditunjukan dan diapresiasi. Nah, ketika ingin menari di depan tunanetra, jelas, hal itu tak dapat diapresiasi. Namun, alangkah baiknya, jika kegiatan itu dilakukan bersama tunanetranya. Sehingga, tunanetra juga dapat merasakan gerakannya dan mengapresiasi hal tersebut.

            Sedikit cerita, suatu ketika, nanda, seorang pendamping, sedang mendampingi para tunanetra latihan untuk melakukan pentas seni. Dalam pentas tersebut, menampilkan sebuah tarian dan penarinya itu adalah seorang tunanetra..

Dalam latihan itu, seorang mentor mencontohkan gerakannya terlebih dahulu. Kemudian, gerakan itu akan ditirukan oleh pendamping. Ketika pendamping telah menirukan gerakan atau kuda-kudanya, baru si tunanetra akan meraba pendampingnya dan kemudian, otak belakang manusia akan merekamnya. Ketika ada kesalahan, barulah mentornya yang membenarkan.

            Cara seperti itu, juga dapat dilakukan dalam seni teater. Hanya saja, karena ada raba-meraba, lebih baik, pendampingnya mengikuti jenis kelamin si tunanetra. agar, dapat menghindari suatu tindakan yang berujung pada pelecehan seksual.

4. Buang Angin

Buang angin memang merupakan hal yang alamiah. Buang angin juga penting bagi kesehatan tubuh. Karena jika tak dapat buang angin maka hal itu berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.

            Namun, sehat bagi tubuh, belum tentu sehat bagi pendengaran kawanmu. Apalagi jika kawanmu adalah seorang tunanetra.

            Masih segar dalam ingatan, poin 1 di atas, kalau tunanetra memiliki audiokorteks yang lebih sempurna ketimbang orang awas. Jadi pertimbangkan saja ketika ingin membuang gas.

            Bisa-bisa, hal itu akan direkam oleh si tunanetra dan biasanya saya akan mereplikasi suara itu. Kemudian. Bunyi-bunyian tersebut, akan saya publish di medsos dan youtube. itu kalau tunanetranya adalah saya.

Kendati begitu, mau saya atau bukan, pastinya keadaan seperti itu tak diinginkan semua orang. Maka dari itu, cobalah untuk mempertimbangkan segala sesuatunya, sebelum melepaskan gas monoksida tersebut.

            Nah, setelah tahu, apa saja yang kemudian jangan sampai dilakukan jika bersama tunanetra, maka berikutnya adalah mempraktikannya. Ketika hal kecil ini gapat dilakukan, pasti antara anda dengan tunanetra yang dijumpai suasananya jadi lebih nyaman. Dengan begitu, hubungan yang kolaboratif akan terbentuk. maka, tinggal menunggu waktu untuk merubah aksesibilitas fisik. Sebab, ketika semua orang sadar akan difabel, selanjutnya seluruh akses di segala bidang akan mengikuti pola pikir manusia yang telah tercerahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *