Pertuni Pasuruan
Kambing putih

Wedus Balap

            “Ha … ha … ha… sudah kamu mending diam di kebon sini, kabarnya di sini ada anjing liar, biar kamu dimakan, kan kamu anak gak ada gunanya,” ujar Warno, pimpinan geng anak-anak desa itu. dia bersama kroninya sedang merundung anak pak Kyai Husein. Meski, kyai Husein adalah orang yang terkenal dan sangat disegani tak membuat geng anak nakal itu surut nyali mengerjai anaknya seorang Kyai.

            Rahmat walaupun anak seorang Kyai tak pernah ditakuti layaknya bapaknya. Hal itu karena Rahmat terlahir buta dan menjadi bahan olok-olok kawan-kawannya di sekolah. Meski ketika di pesantren kawan-kawan itu menyamar bak malaikat yang seakan-akan melindunginya. Namun, ketika di luar zona aman tersebut, Rahmat sering tak kuasa menahan air matanya.

            Sampai pada suatu ketika, Warno, anak paling besar dari anak-anak seusianya merencanakan kemufakatan jahat bersama geng yang ia beri nama King Cobra. Hasilnya, saat ini Rahmat ditaruh di kebon luas bekas Belanda yang terkenal luas dan angker..

            “Ampun Warno, aku tak hafal betul pulang ke rumah dari kebon ini, aku mohon ampun, Warno …” Rahmat yang tak dapat melihat karena buta, memang mau tidak mau harus menghafal jalan. Sayangnya, dia memang tak pernah bermain ke kebun. Akibatnya, ia tak hafal jalannya ke rumah dari kebun. Selain itu, ada rumor yang berkembang di desa itu, kalau ada anjing jadi-jadian yang suka memakan anak-anak di sekitar situ.

            “Ha … ha … ha … biar kamu dimakan anjing liar itu, lagipula kalau kamu gak ada bapak ibumu juga gak kesusahan kan,” kata Warno sambil diselangi gelak tawa bersama crew-nya.

“Ayo rek! Kita pulang dan –“

            “Tapi bos, nanti kalau anak ini dimakan anjing beneran, gimana?” celetuk Joko, anak buah Warno. Sebetulnya ia merasa kasihan. Namun, apa daya lantaran kurang kuat dan takut dengan Warno ia pun tak berani membantu secara terang-terangan.

            “Oh, jadi kamu mulai ppeduli dengan anak ini rupaanya, apa kamu mau menemani anak ini disini dan dimakan anjing juga?” dengan seringainya, Warno mengintimidasi Joko. lalu, Joko pun angkat tangan tanda menyerah.

“Ok bos, mari kita buat sperti tak terjadi apa-apa.”

“Bagus, itu baru namanya loyalitas.”

            Mereka pun meninggalkan Rahmat di kebun itu dengan gema tawa yang tertinggal di memorinya. Rahmat hanya bisa terus meneteskan airmatanya sambil bergerak ke kanan dan kiri sejauh satu langkah kecilnya bisa membawanya.

Sembari terisak-isak, Rahmat merenungi perkataan Warno. Ia merasa, apa yang dikatakan Warno sepertinya adalah hal yang benar. Padahal, Rahmat tak ingin merepotkan siapapun, bahkan keluarganya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.

Rahmat berpikir, mungkin ia sebaiknya di sini dan menghilang ke dalam pencernaan dedemit atau apalah itu yang bisa makan manusia.

            Baru seseruputan kopi ia berpikir seperti itu, ia kembali dialiri rasa takut. Ia membayangkan, bagaimana sakitnya ketika ditelan dan dicerna oleh dedemit.

            Buru-buru, ia mencoba mengingat-ingat doa-doa yang diajarkan oleh Abahnya. Dengan memegang tongkatnya erat, ia melafalkan doa itu, sambil terbata-bata lantaran ketakutan.

Hingga angin sore serasa menggelitik kulitnya, tak ada tanda-tanda bahwa ada orang suruhan Abahnya akan menjemputnya di kebun itu. Rahmat serasa kehabisan waktu, gelisah dan kesal bercampur aduk di pikiran dan hatinya.

Sambil membayangkan kemungkinan terburuk, mulut Rahmat berkomat-kamit membaca doa selamat. Hanya suara lirih Rahmat, di selingi isak tangis yang dapat di dengar jelas olehnya saat itu.

            “Haaa –“

Rahmat tersentak kaget mendengar suara geraman dari kejauhan. Keringat dingin semakin deras bercucuran di kulitnya yang putih. Meski begitu, Rahmat tetap berusaha melafalkan doa-doa itu dengan benar.

            Hanya saja, Sangking ketakutannya, Rahmat pun semakin cepat dan keras melantunkan doa-doa selamat itu. lantaran hal itu, ketimbang disebut berdoa, Rahmat lebih mirip orang yang sedang kedinginan dan putus harapan menunggu bantuan..

“Gresek, gresek, grrrr ….” Suara geraman itu semakin dekat. Sangking takutnya, Rahmat pun teriak,

“Ampun, ampun, jangan makan saya apapun itu bentukmu entah jin atau anjing, yang penting jangan makan saya, saya Cuma kesasar saja di sini, saya tak berniat menggangumu, ampun!”

            Hembusan nafas makhluk itu dapat dirasakan Rahmat, Ia pun terpojok, dan badanya tak kuasa ia perintah. Gemetar dan bingung lantaran tak tdapat melihatnya. Hanya hembusan nafasnya yang dapat dirasakan Rahmat dan nafas itu bukan main baunya. Tak jelas seperti apa, tapi Rahmat pernah mengingat bau ini. di pikiran Rahmat saat itu,, nafas itu lebih mirip bangkai ayam yang bercampur dengan nafas Rahmat ketika baru bangun di pagi hari. Baru beberapa saat berpikir seperti itu, sebuah lidah menyentuh wajahnya.

            “Slurp ….”

Seekor anjing hitam besar menjilat wajah Rahmat. Namun, jilatan itu bukanlah anjing itu ingin merasakan Rahmat dan lantas memakannya. Tapi, jilatan itu adalah tanda bahwa Rahmat bukan merupakan sebuah ancaman. Lebih-lebih, anjing itu menganggap Rahmat adalah saudaranya.

            Apa yang mendorong anjing itu berbuat seperti itu, Rahmat pun tak tahu. mungkin, bisa saja, itu karena doa selamat yang dibacanya. Atau mungkin, memang Rahmat memiliki bau yang sama dengannya.

            Seketika itu, Rahmat teringat sebuah acara tentang binatang di televisi. Ia mengingat suara pembaca acara itu menjelaskan tentang kebiasaan anjing. Dan ia mengingatnya. Seekor anjing akan menjilat orang yang dia sukai.  

Namun, ada suara lain yang muncul di banaknya. Yakni, suara Abahnya.

            Abahnya pernah bilang, jika seekor anjing mempunyai najis. Sehingga, kalau bisa jangan berdekatan dengannya.

Tapi, apa daya, ia sendirian di tempat yang tak dapat ia lihat. Dengan terpaksa, Rahmat pun mengelus-elus si Anjing itu.

            Direspon seperti itu, Si Anjing pun kegirangan. Ia membalas elusan Rahmat dengan kembali menjilat muka Rahmat.

Rahmat hanya bisa tertawa geli. Wajahnya kini basah oleh liur si anjing. Meski, Rahmat merasa jika anjing ini perlu menggosok giginya, si Rahmat tetap membiarkannya menjilati mukanya.

            Ia takut anjing itu akan lari. Ia sendirian, dan satu-satunya teman yang tak terduga itu Cuma anjing. Jadi, sebisa mungkin, Rahmat tak mengusik kesenangannya..

            Maka, Ia berikan nama untuk si anjing. Mungkin, dengan memberikannya nama, ia akan jadi membantunya bertahan hidup di kebun itu.

            Aku akan memanggilmu Sahabat.”

“Guk!” Anjing itu menyalak senang.

            Kemudian, sahabat menyndul Rahmat dan berlari agak menjauh lalu menyalak kembali. Ia seperti ingin Rahmat mengikutinya.

Meski dialiri rasa bingung, mau tidak mau Rahmat pun membuka lipatan tongkatnya. Kemudian, ia pun berjalan mengikuti suara gong-gongan Sahabat. Dengan perlahan dan cukup berhati-hati, Rahmat melangkahkan kakinya satu persatu mendekati arah suara.

            Setelah agak dekat, Sahabat pun agak menjauh dari Rahmat dan kembali menyalak untuk memanggil Rahmat. Kembali Rahmat bingung, tapi mau tak mau mengikutinya lagi.

            “Apa maksudmu, Sahabat?” tanya Rahmat dalam hati.

            Meski bertanya-tanya, Rahmat tetap merasa mengikuti gong-gongan Sahabat adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan saat-saat seperti ini. Maka, ia pun terus mengikutinya. Hingga dari kejauhan terdengar sebuah suara yang sangat familiar bagi Rahmat.

            “Gus! Gus Rahmat!!”

Munculnya suara panggilan itu, membuat Rahmat lepas dari belenggu keyakinanan yang dipaksakan oleh Warno ke Rahmat. Karyo, santri Abahnya itu, mengembalikan keyakinan Rahmat, jika, ia bukan sebuah beban bagi keluarganya.


            “Cak Karyo!” teriak Rahmat sambil diikuti gong-gongan Sahabat.

            “Untung ketemu, dari mana saja sampean, Gus?”

            Ditanya seperti itu, Rahmat pun ragu mengungkapkan hal yang sebenarnya terjadi padanya. Karena, jika ia melapor, bisa-bisa Karyo akan naik pitam, dan menghajar anak-anak bedebah itu.

            Bagi Rahmat, balas-membalas adalah bukan hal yang benar. Kalaupun harus ada balasan bagi mereka yang berbuat jahat, maka, yang berhak hanya satu, yaitu Tuhannya. Bukan dirinya, bukan Karyo, apalagi Abahnya.

“Aku Cuma bermain, terus kesasar ke sini, Cak.”

Karena ada Sahabat, Karyo pun tercengan. Ia pasang kuda-kudanya hendak mengusir Sahabat.

“Astaughfirullah, awas Gus, ada kerek, nanti sampean digigit, biar aku usir najis ini gus!”

                        Cepat-cepat Rahmat pasang badan untuk melindungi Sahabat. Walaupun ia ragu, apakah ia berada di tempat yang tepat antara Karyo dan Sahabat, namun ia tak peduli, lantaran Sahabat telah berusaha menolongnya keluar dari kebun ini.

                        “Tunggu Cak! Dia itu yang menolongku, jadi jangan diusir, biarkan saja kalau dia mau ikut kita, mungkin dia Cuma lapar dan ingin makan.”

            Karyo bingun mengetahui permintaan anak Kayinya. Namun, apa daya, Karyo Cuma seorang santri, dan suatu saat Gus Rahmat akan menjadi seorang Kyai seperti bapaknya. Jadi, Ia harus tunduk dengan segala tihtanya.

            “Baik Gus, tapi nanti kalau ditanya Pak Yai, gimana?”

            “Biar nanti aku yang ngomong ke abah.”

Kendati keheranan, Karyo merasa tak punya hak untuk mempertanyakannya. Ia Cuma seorang santri dan yang ada dihadapannya adalah anak seorang Kyainya. Dalam pikirannya, jika Tuhan memperpanjang hidupnya, ia akan mengabdi pada Rahmat suatu saat nanti.

            Karena ia tak punya apa-apa lagi di dunia ini. jikalau Kayi Husein tak menyelamatkannya waktu itu, mungkin ia tak mengenal Tuhan seperti sekarang. Maka, ia Cuma bisa berharap membalas budi kepada Kayi Husein dan penerusnya. Walaupun, permintaan yang satu ini aneh menurutnya. Tapi, membalas gurunya dan penerusnya dalah hal yang harus dilaksanakan.

            Sesampainya di rumah, Abahnya telah menunggu di depan teras dengan asap rokok kreteknya. Ketika mereka datang, Abah pun berdiri dan menghampiri mereka.

“Langsung mandi besar 7 kali, jangan lupa pake pasir dulu atau debu, ok!”

            “Bagaimana Abah bisa tahu, kalau aku terkena liur anjing?” tanya Rahmat

            “Lah itu, dia mengikuti di belakangmu.”

            “Guk!” gonggong Sahabat.

Wajah kecil itu menyunggingkan ssenyum tipis. Ia baru tersadar jika dalam perjalanan pulangnya, Sahabat mengikutinya.

            Andai kata, tak ada makhluk-Nya yang berwarna hitam legam itu, Rahmat tak akan ada di pelukan keluarganya lagi sekarang. Ia bersyukur berkat rahmat-Nya, kini ia bisa bernafas lega.

            Dalam benaknya, ada keinginan yang besar untuk menjalin persahabatan dengan makhluk-Nya yang lain. Namun, ada setitik keraguan dalam hatinya.

            Tak pernah ada seorang pun di desa itu yang berkawan dengan anjing. Bahkan, dalam ajaran yang diyakini Rahmat, anjing memiliki najis dan ketika ingin merawatnya harus ada fungsinya.

            Tak akan ada malaikat yang masuk ke rumahnya, dan pahalanaya akan berkurang sebesar gunung setiap harinya. Begitulah sabda Nabi yang ia dengar dari Abahnya.

Namun, dalam benak Rahmat, berputar berbagai pertanyaan. . Bukankah anjing juga makhluk-Nya? Bukankah pula, sesama makhluk-Nya harus saling bersahabat? Dan bukankah Tuhan itu Maha pengasih dan Penyayang?

Dan bukankah pula Tuhan yang menciptakan keindahan? Lagipula tak ada yang diciptakan-Nya yang sia-sia. Meski, bagi manusia itu tak sempurna atau dianggapnya hanya sampah.

Bersambung

Halaman selanjutnya

1 thought on “Wedus Balap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *