Pertuni Pasuruan
Kambing putih

Wedus Balap

Ilustrasi Gambar Kambing

Cerita Seblumnya

Rahmat kini bisa bernafas lega. Makhluk yang tak diduga-duga menolongnya ketika ia tersesat di kebun bekas Belanda itu. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Hanya Rahmat, Sahabat dan Tuhan yang tahu.

Meski terdengar aneh bagi sebagian orang, jalinan perkawanan itu tak berhenti di situ saja. Layaknya saudara yang telah hilang jauh, Sahabat dan Rahmat menjalani hari-harinya bersama.

                        Setelah peristiwa itu, Keesokan harinya, seusai pulang sekolah, biasanya Rahmat akan tidur siang dan bangung menjelang waktu ashar setelah itu, berangkat ke Surau untuk belajar mengaji. Namun, siang ini berbeda, ia disambangi oleh kawan yang menyelematkannya kemarin.

                        Sahabat telah menunggu Rahmat di depan pagar rumahnya yang terbuat dari tanaman merambat. Mendengar gonggongan Sahabat, Rahmat pun langsung berjingkat melepas pegangan tuntunannya dengan Karyo, yang saat itu sedang ditugasi untuk menjemput Rahmat.

                        “Sahabat!” teriak Rahmat sambil berlari dengan langkah yang pasti, karena ia hafal betul denah rumah dan sekitarnya.

                        “Gus, jangan, itu najis!” Karyo berusaha memperingati Rahmat. Namun, Rahmat tak menggubrisnya.

                        Keributan itu sampai di telinga Kyai Husein. Meski, Kyai Husein sebenarnya tak mempersalahkan, jika ada anjing yang bertamu ke rumahnya, karena memang, anjing itu adalah salah satu makhluk hidup. Tapi, ia merasa, jika memberikan ritus tentang membersihkan najisnya perlu bagi anaknya.

“Le, kamu tau kan anjing itu ada najisnya?”

                        “Iya, Bah …” tapi bolehkah aku merawatnya?”

                        “Kalau Cuma dibuat mainan, mending jangan, kalau mau merawat anjing itu harus ada fungsinya, misal menjaga rumah, perkebunan, lagipula, temanmu ini kan liar, mungkin dia lebih suka di rumahnya, di kebun bekas Belanda itu.”

                        “Semisal, dia dateng sendiri ke sini untuk bermain sama aku, gimana Bah?” tanya Rahmat polos.

                        “Kalau begitu, ya, tak masalah, tapi ingat konsekuensinya, karena anjing ada najisnya, walaupun begitu, anjing juga makhluk Allah dan tak boleh dibunuh apalagi sampai dimakan, kamu mengerti, Le?”

“Baik Bah, aku paham.”

Rahmat mengerti betul perkataan Abahnya. Ia tahu Abahnya hanya berusaha mengingatkan Rahmat untuk bersuci setelah terkena najis. Meski hal itu tak mudah, Rahmat akan menjalankan segala risikonya.

Hingga hal itu disepakati, Rahmat dan Sahabat bermain setiap harinya, seusai pulang sekolah. Padahal biasanya, seusai sekolah, Rahmat akan tidur siang dan bangun menjelang ashar. Lalu, ia akan mandi dan berangkat ke Surau untuk mengaji.

                        Kini kebiasannya berubah, yang dulunya tidur siang, kini Rahmat akan melatih Sahabat. Kadang, mereka berlatih lempar tongkat, kadang pula, mereka saling kejar-kejaran, dan kadang, hanya memberikan makanan ke Sahabat. Pernah pula, Rahmat mengajak bermain petak umpet. Namun, Sahabat juga tak begitu paham apa yang dikatakan oleh Rhamat, dan Rahmat juga tak pandai bersembunyi. Akhirnya, permainan itu terkesan seperti kejar-kejaran.

                        Walaupun begitu, kehadiran Sahabat membuat Rahmat menjadi senang. Kini, ia merasa tak sendirian. Ia punya kawan, meski berbeda bentuk dan bahasa.

                        Sementara Rahmat berbahagia dengan Sahabat dan sukses menjalani bidang akademisnya hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Berbeda dengan kehidupan Rahmat, kehidupan para geng Kobra, tak berjalan mulus layaknya Rahmat. Mereka dicap sebagai sampah masyarakat. Bahkan, penduduk setempat mencurigai mereka sebagai pencuri ternak. Sebab, ternak di tempat itu tiba-tiba banyak yang hilang.

Dalam bidang akademis, mereka pun limbung dan terkatung-katung, lalu putus, layaknya layangan putus. Meski begitu, kecerdesaan mereka tetap berada di tempatnya. Ide-ide gila mereka tetap tak terbendung Ide-ide mereka meluncur seperti katapel yang biasa ditembakan oleh anak kampung sebelah.

Terbukti dari cara mereka mencuri kambing. Tak pernah ditemukan satu bukti mengarah ke Geng itu. Bukti-bukti mereka mencuri semua lenyap. Warga pun tak dapat menelusuri kambing mereka yang dicuri. Lantaran, para Geng Kobra, tak menjual ke penadah kambing curian terkenal di daerah situ.

Kambing curian itu, Cuma dikonsumsi oleh mereka. jelas, mereka mengkonsumsinya sebagai pelengkap pesta berfeadah menurut mereka. yakni, pesta Ciyu tiap malam.

                        Selin mereka terorganisir sangat rapi, mereka juga menyebarkan rumor. Rumornya, yang memakan ternak warga adalah Sahabat. Tapi, sialnya kurang agak berhasil, karena tiap harinya warga tahu jika Sahabat itu diberi makan oleh Rahmat.

                        Kendati begitu, mereka tak menyerah. Mereka tetap getol menyebarkan kabar burung tentang Sahabat.    

                        “Bos, gimana nih, kita sudah dicurigai kalau kita yang mencuri ternak, lama-lama kita bisa tertangkap,” kata Bogel salah satu Crew King Kobra.

                        “Santai saja, kan kita sudah bikin rumor kalau anjing itu yang makan ternak mereka, jadi jangan panik,” Balas warno.

                        “Tapi Bos, semisal kita ketahuan, kita bisa bonyok, Bos!”

                        “Apa-apaan kau ini, kan kita sudah bersumpah, kalau kita tak takut apapun, kecuali Kyai Husein.”

                        “Kalau anaknya Kyai Husein, gimana Bos?” tanya Joko.

                        “Kalau itu gak perlu takut, kan dia masih belum jadi Kyai, jadi tak usah dipedulikan.” Dengan sesumbar Warno mengatakan hal itu.

                        “Oh, iya, kita sudah lama tak mengganggu Si Buta itu, gimana kalau kita mengerjainya lagi, kan, terakhir kita sesatkan dia ke kebun itu, kali ini apa, kalian ada ide?” tanya Warno.

                        “Aduh bos,nanti kita malah ketahuan, kan kita sudah agak gede, dan pastinya Rahmat sekarang berani melapor ke Abahnya, lebih-lebih melapor ke pihak yang berwajib.”

                        “Oh,jadi kamu mulai berlagak pengecut, Jok!” seringai Warno menggetarkan pernyataan Joko.

Joko yang terintimidasi, mau tak mau menurut. Ia pun mengacungkan dua jempolnya pada Warno sambil menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Sebab, kalau tak cepat, keburu, tangan Warno yang sampai ke hidungnya.

                        “Mari kita lakukan, bos. tapi apa ya bos?”

Tak jauh dari diskusi berat para Geng King Kobra. Sahabat berjalan santai sambil mengendus-ngendus. Sahabat tahu sebenarnya dekat situ ada para bedebah itu. Tapi, Sahabat tak pernah menyangka jika para geng King Kobra itu merencanakan sesuatu. Ia pun lewat saja, tanpa peduli terhadap suara-suara mereka.

                        Warno, Bapak Ketua Geng, yang melirik Sahabat nyelonong dengan santainya. Tiba-tiba, meluncurlah ide hebat yang tak pernah dipikirkan oleh warga di lingkungan desa itu.

                        Hanya Warno dan Cuma Warno, anak bang Hari, Ketua Geng King Kobra, anak yang berhasil lolos dari kecurigaan warga dan anak yang meskipun tak sekolah idenya sangat luar biasa.

“Ah, aku ada ide rek. Dengarkan!”

                        Malam harinya, beberapa botol Ciyu telah berada di pos ronda desa. Warno yang sedang membakar sate saat itu, tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan Joko dari kejauhan.

                        “Rek, ada Kyai Husein mau lewat ke sini dari masjid.”

                        “Dari mana kamu tahu, Jok?” tanya Warno.

                        “tadi pas mau ke sini dari rumah, gak sengaja aku lihat pak Kyai kayaknya lewat rute sini.”

                        “Ayo rek, siaga 1, sembunyiin semua botol ciyunya, nanti ketahuan Pak Kyai, kalau beliau lewat sini,” instruksi Warno keras pada anak buahnya.

                        “Siap Bos!”

                        Dengan cepat mereka menyembunyikan persedian air fermentasi beras tersebut. Sebentar saja, bukti-bukti dosa mereka hilang dari penglihatan.

                        Benar saja, beberapa menit kemudian, dari kejauhan muncul pak Kayi Husein dengan jenggotnya yang putih tipis-tipis. Ia berjalan klewas-kelwes, mendekati titik tempat geng King Kobra itu berada.

Untungnya, Geng King Kobra telah siap dengan kedatangan seorang Kyai yang akan lewat situ. Mereka pun saling memberikan kode untuk menyembunyikan air fermentasi beras tersebut. Dan ketika Pak Kyai mendekat, Pak Kyai hanya melihat asap putih dari pembakaran sate mereka.                                    

“He, Rek, bakar apa nih, baunya kok sedap sekali?” tanya kiyai husein pada para bedebah itu.

                        “Halo Pak Kyai, kita lagi bakar sate,” balas direktur geng King Kobra.

                        “Oh, mantep … mantep …., boleh nyoba satu ”

“Eehh – tent – saja,  boleh Pak Kyai, silahkan, monggo Pak.”

Anak buah Warno hanya bisa diam. Menahan tawa atau peringatan-peringatan yang terlintas di benak mereka. Bahkan, Joko yang kerap kali sadar jika perbuatannya adalah jahat, Cuma bisa termenung, ketika Pak Kyai meminta daging haram itu.

Lantaran dipersilahkan, Kyai Husein pun tak ragu mengambil satu tusuk sate dari tangan Warno. Mereka pun hanya bisa saling pandang memberikan kode tersembunyi dan yang tahu hanya mereka. hampir-hampir, Joko mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi, lantaran Warno sudah mendelik terlebih dahulu padanya, mulut Joko terkunci rapat. Tenggorokannya terasa tercekat dan hanya batuk dehem saja yang keluar dari kerongkongannya.

                        Sementara Joko diam seribu bahasa, Pak Kyai yang kecemut-kecemut menikmati sate pemberian Warno sedang berpikir. Ia berpikir, anak-anak bedebah itu mendapat daging dari mana. Jangan-jangan memang benar yang dilaporkan warga desa, kalau mereka mencuri kambing warga.

                        Lantaran penasaran, Pak Kyai mencoba menyelidikinya,

                        “Wuhss, wenak iki, daging apa ya?” ditanya seperti itu, Warno CS geragapan mencari jawaban yang pas untuk pakk Kyai.

                        “Dag—daging wedus pak, daging wedus balap,” jawab Warno terbatah-batah.

                        “Oh, Kambing toh, tapi kenapa namanya kambing balap?” tanya Pak Kyai menelisik.

                        “Iy – Iya, soalnya larinya lebih kenceng Pak Kyai, daripada kambing biasa,” balas Warno dengan suara yang sedikit gemeter.

                        “oh, begitu, loh, kok kalian tahu larinya kenceng, itu gimana?”

                        “Eh, tadi pas mau disembelih sempet kabur, terus kami jadi agak susah nangkepnya lagi, soalnya larinya kenceng, Pak Kyai.”

                        “Hmm …, kok kabur, kalian gak nyolong kambing, kan?” tanya Kyai Husein curiga.

                        “Tentu, tidak Pak Kyai, kami mendapatkannya secara jujur, gak nyolong sumpah, kami iuran terus beliin kambing. Untungnya, bapak penjualnya baik, ngasih harga murah ke kami.”

                        “Syukur kalau begitu, soalnya warga pada rame, katanya kalian pada suka nyolong ternak warga. Tapi mereka belum punya bukti yangkuat, jadi aku nyuruh gak usah bertindak dulu.”

                        “Oh, terimakasih Pak Kyai. Untung ada Pak Kyai Husein, kita jadi aman.”

                        “Lah, kalau kalian gak nyolong kenapa harus takut, gitu aja kok ribet.”

                        “he rek! Sate kalian kan enak, boleh aku beli enggak, 10 tusuk?” minta Kyai Husein.

                        :Boleh, boleh, monggo Pak Kyai, kalau mau bawa saja, gak usah dibayar, bukan begitu, teman-teman!”

                        “Benar, monggo Pak, ambil saja,” seru mereka serentak.

Warno merasa selamat. Kecurigaan Pak Kyai dapat ia bendung. Kini, mungkin ia hanya perlu menjawab pertanyaan dari Joko, anak buahnya sendiri.

                        “Bos, emang kita gak dosa  ya, ngasih daging haram ke Kyai Husein.”

                        “Kan, Pak Kyai sendiri yang minta, lagipula haram kan karena taring sama cakarnya. Kalau sudah jadi sate, ya gak ada masalah, kan gak ada taring sama cakarnya,” balas Warno sengit.

                        Para anggota geng King Kobra itu pun hanya manggut-manggut mendengar ketuanya. Mereka pun menghabiskan malam itu dengan pesta minuman sembari makan daging wedus balap itu. Sementara itu, di kediaman Kyai Husein, Rahmat merasa gelisah. Bahkan ia tak menyentuh satu pun sate wedus balap itu.

                        Hatinya tak karuan, lantaran siang itu Sahabat tak mengunjunginya. Padahal setiap sepulang sekolah, Rahmat akan disambut dengan suara gong-gongan Sahabat.

                        Malam itu cuaca sangat bersahabat. Tak ada hujan. Tak ada angin, bukan layaknya malam yang sangat dingin yang biasa dirasakan penduduk desa. Meski cuaca malam itu ramah dan bersahabat, Kyai Husein menggigil dan bingung. Ia tak tahu kenapa ia bisa sampai kedinginan. Padahal, angin malam ini sangat hangat.

                        “Duh, Bu, bisa ambilkan selimut lagi, kok dingin ya, rasa-rasanya aku greges.”

                        “loh … Abah kenapa?” Ibu Rahmat pun beranjak dari kasur dan mengambilkan selimut tambahan untuk Kyai Husein.

                       
“Abah kayaknya sakit, coba aku pangil dokter ya, Bah,” dengan tenang Ibu memanggil abdinya untuk diutus mencari seorang dokter.

                        “Abah …”

                        Seorang anak kecil sekitar 7 tahun memanggil Abahnya.

                        “Iya Nak, ada apa?” dengan suara yang lembut Abahnya menjawab.

                        “Kenapa Abah sehabis Zuhur, sering diam di depan pagar? Padahal kan panas, Bah.”

                        “Oh, Abah hanya menunggu seorang sahabat. Ya walaupun sudah bertahun-tahun tak kunjung datang. Abah percaya jika suatu hari ia akan datang, seperti dulu,. Abah menolak kabar dari orang-orang jika ia telah tiada.”

 Anak itu menatap Abahnya lekat. Ia melihat gurat keriput di wajah putih abahnya. Meski begitu, ada ketenangan ketika ia berada di depan pagar tanaman rumahnya. Dengan isapan terakhir, rokok itu pun menjadi puntung yang dibuang Rahmat di depan pagar.

                        Sudah bertahun-tahun berlangsung. Rahmat setiap hari, ditemani rokok kreteknya akan menunggu Sahabat memanggil dari depan pagar tanaman rumahnya. Namun, anjing itu tak kunjung datang, hingga ia mendapat kabar dari Joko yang saat itu bertobat dan mengakui segala hal kepada Rahmat.

                        Kendati Rahmat tahu jika anjingnya sudah di dalam perut Geng King Kobra, dan beberapa ada di perut Abahnya, Rahmat tak pernah menghakimi mereka. ia tetap pada keyakinannnya sewaktu menjadi seorang Gus.

                        Pembalasan adalah bukan haknya, bukan juga hak Sahabat, Cak Karyo atau yang lainnya di dunia. Pembalasan bagi Rahmat adalah milik Penciptanya.

sepertinya sudah hampir Ashar, mari kita ke sura. Tapi, sebelum itu, bisa tolong ambilkan tongkat Abah?”

                        “Baik Bah.”

                        “Kalau bisa cepat! Soalnya, nanti kita bisa didahului Paman Warno.”

BUYAR

2 thoughts on “Wedus Balap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *