Ketika Mewah Cuma Berarti Hura-Hura

Ilustrasi foto keramaian

Oleh : Dendy Arifianto

Wajar saja, jika menggelar pernikahan dengan cara yang bermewah-mewah. Panggung yang besar dan mengundang banyak orang merupakan salah satu atribut pernikahan yang mewah itu. Sebab, itu adalah hal yang presticius. Tapi, itu sebelum prahara covid 19 muncul. Lantas, kalau dilakukan hari ini?

Jelas mewah, namun tak istimewa. Jelas tak istimewa, lantaran itu dilakukan sekarang. Coba saja tengok, relevansi isu yang berkembang sekarang adalah mencegah transmisi covid 19.

            Ketika para tenaga medis berjibaku mencegah transmisi covid. Setidaknya, orang-orang sedikit membantu mereka. Paling tidak, minimal tidak berkumpul di satu tempat. Apalagi menggelar acara dengan konsep sebelum pandemi ini ada..

Contoh, baru-baru ini viral video acara pernikahan di pasuruan. Dalam video itu, banyak orang berkumpul di satu tempat. Hebohnya, empunya hajatan mewah itu adalah anggota legislatif.

Saya tidak akan menyoroti anggota legislatifnya. Saya juga tak akan bilang, jika orang-orang di DPRD harusnya menjadi contoh. Tidak bukan itu. Karena, kalau contoh, kan memang gak perlu ke anggota dewan.

            Saya cuman ingin bilang, memang benar, adanya pernikahan yang mewahseperti itu, pasti ada roda ekonomi yang bergerak. Panggung besar, sound system yang menggelegar dan makanan-makanannya, itu salah tiga bukti utama bahwa ada ekonomi yang berputar.

Kendati begitu, di saat-saat seperti ini, untuk setiap keuntungan, pasti ada harga mahal yang harus dibayarkan. Tapi, yang membayar belum tentu yang dapat untung.

            Bisa saja yang tidak mendapat apa-apa malah yang membayarnya. Lantaran, sudah barang jelas, manusia tak kan pernah tahu giliran mereka harus membayar.

            Pasti sudah barang semua tahu, jika transmisi covid masih diperdebatkan. Satu ada yang bilang droplet, sisi yang lain bilang kalau airborne juga bisa. Dengan perdebatan seperti itu, , lebih baik berjaga-jaga dengan tak berkumpul dan tetap sukseskan vaksin.

Kendati telah vaksin, alangkah baiknya tetap tidak berkumpul terlebih dahulu. Sebab, vaksin, bukan lantas menjadikan dirimu seperti supermin. Ketimbang entar pas apes terus ikut-ikutan nanggung resikonya.

            Maka dari itu, harusnya , acara acara mewah itu berubah. Ketika mewah, masih diartikan dengan hajatan yang didatangi banyak orang, dan panggung besar, serta sound system menggelegar, tentu akan terasa tak pantas.

            Bagi saya, mewah jelas tergantung dengan relevansi keadaan sekarang. Saat ini hal yang paling mewah adalah selamat dari virus itu. Apalagi dengan varian barunya. Padahal, kita tidak pernah tahu ke depannya akan  seperti apa.

            Mungkin bisa berharap jika virus itu tak kan ada dan keadaan kembali normal. Mungkin juga, ada virus varian lain atau virus berbeda yang lebih ganaas muncul. Kemungkinan terburuk harus dipikirkan mulai sekarang.

            Karena selamat dari virus itu harganya mahal. Jika masih ingin menempatkan mewah ke dalam pengertian mahal. Namun, siapa sangka, mewah juga bisa dibilang adalah cara orang-orang untuk memunculkan empati bagi publik.

Memunculkan empati itu tak harus dengan uang banyak. Karena ketahanan soasial samping rumahmu itu lebih penting selama pandemi ini. Jadi lebih baik, mengganti alokasi dana untuk hal yang mewah dengan membangun ketahanan sistem masyarakat dekat rumah perlu digalakan. Paling tidak di tingkat rt.

Bayangkan saja, tak dapat berkumpul, tak dapat ketemu orang, dan tak dapat berjualan layaknya dulu, pasti dirasakan saudaramu, tetanggamu, atau kawan tunanetra di samping rumahmu, itu kalau ada. Namun, masih ada yang bertahan dengan itu. Mereka rela tak mendapat untung. Hanya untuk selamat dari batoro kolo.

Mereka pun tak banyak mengeluh. Meski kadang terasa pilu. Tapi lantas, mereka tak mau cari sembilu.

            Maka, sudah saatnya, merubah konsep mewah itu menjadi sesuatu yang lebih berempati, bukan sekedar pamer gengsi. Apalagi hal itu hanya pada momen sesaat dan kemudian, ada yang kaget, lantaran ada yang dipanggil untuk berpulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *