Pertuni Pasuruan
Foto kebun pisang

Pelepah Pisang

Ilustrasi gambar kebun pisang

Sial itu memang kadang tak melihat siapa yang ditimpanya. Padahal aku Cuma menyampaikan berita. Tapi, sangking kagetnya, kopi Pak Lurah itu menyembur ke mukaku.

Belum lagi sekarang, namanya sepeda butut, ontel pisan, mana bisa berlari kencang. bahkan, menurutku, omelan Pak Lurah dibelakangku itu lebih kencang dari sepeda ontelku.

Ngomal-ngomel terus, tapi tetap bonceng. Coba aku tak melapor tadi pagi. Beruang yang satu ini pasti tidak akan cangkruk di sadel belakang.

“Jo, bisa lebih cepat! Kalau kamu tidak cepat nanti keburu Karman dan Mijan terkapar lantaran saling bacok!” teriak Pak Lurah tepat di leher belakang Parjo.

Padahal aku sudah berusaha keras mengayuh sepeda, agar berlari layaknya Kawasaki. Namun, apa dibilang, aku Cuma, bawahan yang senantiasa kena semprot dan disuruh berlagak harus layaknya Valentino Rossi.

“Iya, Pak Lurah, gak perlu teriak di telinga nih, kan jarak kita juga sudah dekat kan Pak!”

“Jadi kamu ngelawan atasanmu nih.”

Mendengar ultimatumnya. Aku pun hanya bisa diam. Ku kayuh sepedaku sebisa mungkin agar betisku tak meledak. Akhirnya, aku sampai dipersimpangan jalan.

Kalau mau ke kantor desa, biasanya, aku akan belok kiri. Ketika aku hendak banting setir sepedaku. Pak Lurah, kembali teriak di telinga. Sampai rasa-rasanya, daun telingaku akan dapat menutup sendiri, kalau terus-terusan seperti ini.

“He! kenapa belok kiri? Cepet putar setir jelekmu itu ke kanan!”

“Loh, Pak, kan biasanya yang paling dekat ke kantor desa belok ke kiri, nanti kalau belok ke kanan malah muter dan lebih jauh. Lagipula, jalannya juga naik turun.”

“Kayaknya kamu memang siap dipecat, sudah tak usah banyak tanya, cepetan belok kanan!”

“Oke, Bos!”

“Bas, Bos, matamu! Sebut saya Pak Lurah, kalau bisa ada yang terhormat.”

“Oke, Pak Lurah yang terhormat.”

Sepedaku yang tadinya sudah membelok ke kiri. Dengan terpaksa harus banting setir. Sayangnya, hal itu berjalan mulus. Padahal aku berharap, ketika aku belok secara tiba-tiba, sepeda warisan bapakku ini jatuh dan membawa penumpang sial ini ikutan jatuh.

Seusai berbalik arah dengan mulus. Di depan ada jalanan menanjak. Aku pun mencoba untuk turun dan mendorong perlahan sepedaku. Sialnya, Pak Lurah tetap di tempat tanpa bergerak sedikit pun.

“Hei, Parjo! Ayo cepat! Jangan lelet begini, kalau nanti ada yang mati aku tak mau disalahkan, ini semua salahmu!” sentak Pak Lurah.

“Pak, kan tadi yang minta lewat sini jenengan, kenapa aku yang jadi salah?”

“Ya, jelas kamu yang salah, kan kamu bawahanku.”

Mendengar itu aku pun jadi kecut. Tapi, bagaimana lagi? aku Cuma bisa mendorong sepeda ontelku dengan nafas yang sepertinya tinggal separuh. Ditambah, Pak Lurah edan ini tak mau membantu sama sekali. Eh, minimal turunlah, walau tidak ikut mendorong.

Benar saja, aku Cuma anak lurah sebelumnya. Lantaran, Bapakku adalah Lurah yang baik, para warga sering kali memberitakan hal yang buruk tentangnya. akibatnya, Ia pun diturunkan, padahal sejak awal jadi Lurah hingga turun, Bapakku tak pernah sekali pun mengambil uang dari tanah bengkok yang ada di desa.

Itu pun sudah dijelaskan oleh Bapak dengan susah payah. namun, orang-orang tetap bergeming dan percaya dengan omongan pengumbar bualan itu. kabar itu pun sampai ke kecamatan, dan mau tak mau, lantaran didesak, bapakku akhirnya turun. Namun, itu hanya kisah lama. Sekarang, setelah pemilihan Lurah baru, terpilihlah yang terhormat sial ini sebagai Lurah sekarang.

Namun, aku bersyukur, karena dirinya jadi lurah, aku pun diangkat untuk jadi pesuruhnya. Ngomongnya, karena menghormati Bapakku sebagai lurah sebelumnya. Maka dari itu, meski orang ini kadang berisik, aku tetap bersyukur. Syukur-syukur dia jatuh dari sepedaku.

Jalanan di depanku sudah agak melandai. Aku pun kembali menaiki sepedaku, lantas memacuhnya. Sentakan pertama, paru-prauku rasanya mau keluar. Namun, tentu setelah jalan menanjak, pasti ada jalan yang melandai. Jadi, aku tak perlu susah payah mengayuh, meski ada beruang di sadel belakangku.

kurasakan angin menerpa wajahku. Keringatku yang tadinya bercucuran sebesar butir jagung, perlahan mengering. Aku mencoba kembali mengingat saat aku masih dibonceng Bapakku dengan sepeda ini.

ketika sedang mengenang waktuku bersama bapak. Suara beruang itu muncul dan membuyarkan lamunanku.

“He! Jo! Coba berhenti sebentar!”

Lantaran remku tidak cepat tanggap. Maka, ku gunakan rem bantuan, yaitu sandal di kakiku. Debu bekas aku mengerem di jalan tak beraspal, berhamburan. Sepedaku pun berhenti tepat di depan warung Mbok Lasmi yang menjual kopi, nasi bungkus dan gorengan.

“Mbok, nasi bungkusnya 4, terus gorengan 5 ribu, dan kopinya 4 juga ya.”

Aku pun jadi heran dan bertanya-tanya. Katanya tadi kalau tidak cepat-cepat, akan ada yang saling bacok,nah kok ini malah beli makanan?

“Pak, bukannya tadi bapak bilang kalau tidak segera sampai ke kantor desa bakalan ada yang saling bacok?” tanyaku sambil mengusap keringat yang muncul lagi di jidat kepalaku.

“Ya, itu kan tadi, sekarang sarapan dulu.”

“Pak ini darurat, kan tadi sudah saya kabari pagi-pagi, kalau cak Kamran sama cak Mijan mau berkelahi, gara-gara tanah itu pak, terus, berkelahinya kan kita juga gak tahu bakal di mana, bukannya paling enak kita diem dulu di kantor, nunggu orang yang melapor kalau ada perkelahian.”

“Lah, kalau gitu kan ngapain kita harus cepat-cepat, toh, akhirnya juga kita nunggu laporan.”

Ya, ampun. Dasar beruang, setidaknya kalau ada yang melapor dan kita berada di kantor desa. Paling enggak kita dikira respon cepat dan niat bekerjanya. Nah, kalau begini, mana ada penduduk desa yang percaya nantinya.

“Pak, ini serius saya sedang tidak lagi bercanda.”

“Iya, aku tahu kalau kamu serius, lagian kamu kan memang tidak jago ngelawak.”

“Nah, itu tahu kan pak, jadi ayo bergegas!” kataku sambil agak nyolot.

“Iya, sabar, kan makanannya masih dibungkus, bentar lagi juga selesai.”

“Iya sabar Mas Parjo, ini lagi saya bungkusi makanannya, nanti biar bisa dimakan dulu biar gak laper.” Timpal Mbok Lasmi.

“Wah, iya bener tuh, kata sampean Mbok, mending dimakan dulu kan, ketimbang nanti kelaperan,” kata Pak lurah mengiyakan.

Duh! Kalau seperti ini terus nanti masalahnya tak akan kelar. Tapi, mau tidak mau aku juga harus sepemahaman dengan Pak Lurah. Aku teringat nasihat bapak, yang harus loyal terhadap pimpinan. Dan semoga saja hal itu adalah sesuatu yang benar.

Aku lantas duduk di sebelah Pak Lurah. Sebagian nasi yang tadinya telah dibungkus, lalu, dibongkar kembali oleh Mbok Lasmi. Kemudian, dengan cekatan Pak Lurah, tanpa basa-basi, langsung melahap sarapannya.

Melihat Pak Lurah makan dengan lahap, beban pikiranku rasanya menghilang sesaat. Kini, hanya ada lapar yang saling sahut-menyahut di perutku.

Instingku berontak meminta untuk segera melahap. Kira-kira, hampir setengah jam, Pak Lurah dan aku menydahi perlombaan sarapan yang sengit itu. Meski, sebenarnya, kita Cuma sangking laparnya. Dan benar, aku baru ingat kalau tadi sehabis sholat subuh, aku langsung berangkat ke rumah Pak Lurah dan mengabarkan berita yang aku dapat dari Ombet. Tanpa menghiraukan perutku.

“Mas! Mas Parjo! Cepet keluar Mas.” Teriak Ombet dari depan rumahku.

“Ada apa?”

“Mas, ada kabar kalau Cak Karman dan Cak Mijan mau berantem, gara-gara tanah Mas.”

:Ah, yang benar? Kamu enggak ngarang, kan?”

“Enggak Mas, tadi malam dapet info dari Cak Petis, katanya mereka bakal berantem besok sekitar jam 8 pagi gitu mas.”

“Serius! Rencana mereka mau berantem di mana?” tanyaku sontak.

“Kalau dari kabar Cak Petis, lapangan dekat kantor desa, Mas!”

Meskipun matahari masih belum bersinar. Aku langsung bergegas. Aku menaiki sepedaku, dan mengayuhnya sekitar 4 KM menuju rumah Pak Lurah. Aku panik, ketika orang-orang sini berkelahi, pasti ada nyawa yang berpulang. Maka, aku kayuh dengan kencang, tak peduli betisku mulai meradang.

Namun, sesampainya di rumah Pak Beruang itu. aku malah dapat semburan kopi.

“Buaar!.”

“Kenapa tidak bilang dari kemarin, kalau cak Kamran dan cak Mijan mau berkelahi,” kata Pak Lurah dengan menyembur kopinya.

“Ayo cepat, kalau begitu!” sambung Pak Lurah, sambil mengelap bibirnya.

Aku kira Pak Lurah, akan membawa motornya. Namun, Pak Lurah mengikuti di belakangku dan langsung naik ke sadel belakang sepedaku.

Kira-kira sekitar 15 menit lamanya, kami makan dan kemudian aku pun bergegas ke sepeda dan langsung berbicara ke Pak Lurah, “Ayo cepat naik, Pak!”

“Tunggu, aku mau sebatang dulu,” balas Pak Lurah santai.

“Loh, Pak, ini sudah setengah 8, mereka akan mulai MMA jam 8 pas,” jawabku bingung.

Setelah aku mengatakan itu, tak ada tanda-tanda Pak Lurah akan bergerak. Ia malah menghidupkan batang rokok kreteknya sambil memesan kopi lagi untuk diminum di warung.

“Pak, ini gawat mereka akan berkelahi dan ada kemungkinan saling bacok.”

“Kamu tahu dari mana mereka akan saling bacok?” tanya Pak Lurah kecut.

“Kan, Pak Lurah yang bilang sendiri tadi pagi.”

“Ah, kalau begitu, ayo cepat kenapa kamu Cuma diam di situ, Karman dan Mijan tak akan berhenti sampai salah satunya mati!”

Duh! Kalau seperti ini terus aku bisa gila. Padahal, dia yang bilang sendiri. tapi, malah aku yang disalahkan.

“Sudah Mbok semuanya berapa? Nanti biar Parjo yang bayar.”

“Loh, Pak, kok saya yang bayar?” tanyaku kebingungan.

“Lah terus siapa, masa’ saya? lagian kamu kan dapat gaji juga dari saya, Jo!” sentak Pak Lurah Beruang.

“Pak, tapi ini saya Cuma bawa uang tidak terlalu banyak.”

“Ya, sudah bayar, sisanya kamu ngutang ke Mbok Lasmi.”

“Kok jadi saya yang ngutang.”

“Katanya tadi mau menghentikan perkelahian, bukannya ini sudah mau jam 8, aslinya kamu niat gak, Jo?”

Dengan terpaksa aku mengambil dompet di saku belakangku. Kulihat hanya ada 50 ribu satu lembar, dan uang 2 ribuan, 2 lembar.

“Mbok Lasmi, jadinya berapa?”

“60 ribu semuanya, Pak,” jawab Mbok Lasmi.

“Mana uangmu jo!” perintah Pak Lurah.

Dengan enggan, aku berikan uang gajianku yang kecil, dan hanya di bayar separuh pada bulan sebelumnya. Mbok Lasmi pun menerimanya dengan cemberut, sebab dagangannya di utang.

“Pak, jangan lama-lama ya bayarnya nanti saya enggak bisa tengkulak,” kata Mbok Lasmi sambil menerima uangnya dariku.

“Beres Mbok! Nanti masukan saja catatannya atas nama Parjo, pasti dibayar kok.”

Kembali ku kayuh sepedaku dengan beban berada pada sadel belakangnya. Kali ini, si Beruang itu tak banyak bicara. Ia hanya diam dan merenung. Waktu menunjukan jam 8 lebih 15 menit dan kami belum sampai di Kantor Desa. Kalau lewat jalan yang dipilih Pak Lurah itu, kira-kira, butuh waktu 30 menit untuk sampai di kantor Desa dari Rumah Pak Lurah. Jadi, aslinya, kalau mau lewat jalan yang biasa dari rumah Pak Lurah Cuma butuh waktu 15 menit. Nah, ketika, lewat jalur yang dipilih Pak Lurah, butuh waktu 30 menit. Berhubung, kami masih harus sarapan dan dibayar dengan cara utang. Maka, sampai 8 lebih 15 menit kita belum sampai.

Harusnya bisa sampai jam setengah 8, semisal tak diganggu pebuatan Pak Lurah yang tak terduga-duga itu. namun, yang penting sekarang adalah misi kami sebagai pengurus desa, yaitu, menciptakan perdamaian di lingkungan desa, harus terwujud.

Dalam perjalanan yang tinggal sedikit menuju kantor desa. Dengan membawa goloknya, kami tanpa sengaja bertemu dengan Cak Karman.

Melihat orang itu membawa golok, aku pun tancap gas,dan berhasil memperpendek jarak. Pak Lurah yang sedari tadi diam, kembali teriak-teriak layaknya orang kesurupan.

“Man! Karman! Berhenti dulu.”

Dengan suara seperti itu, Karman pun berhenti dan menoleh. Mendengar suara yang bersemangat seperti itu. sepersekian detik, aku berpikir bahwa orang ini adalah memang Lurah yang berdedikasi tinggi. Walaupun, terkadang agak nyeleneh. Tapi, kali ini aku percaya, jika urusan ini akan berakhir.

Lurah beruang itu punseperti meloncat dari sadel belakang dan langsung mengajak diskusi Cak Karman yang akan berbuat rusuh di desa.

“Man, coba kita berbicara sebentar,” ajak Pak Lurah ke Karman, sambil menyoedorkan nasi bungkus, gorengan dan kopi yang tadi kita beli.

Karman pun mengangguk dan menatap bawaan Pak Lurah tersebut. Lalu, mengambilnya, sambil duduk bersilah di tanah, ia pun mempersilahkan Pak Lurah untuk duduk dan berbicara.

Aku merasa bersalah terhadap Pak Lurah. Pasalnya, aku Cuma bisa diam mendengarkan omongan Pak Lurah yang santai namun berusaha untuk menjadi orang seperti Karman. Mungkin, jika akhirnya obrolan untuk mendamaikan antara orangorang ini selesai aku akan minta maaf.

Diskusi pun selesai, dan aku harus mendapatkan hukuman dari Pak Lurah. Memang benar, ada rencana jika Karman dan Mizan akan bertemu di lapangan dekat kantor desa, dan kedua orang itu saling beradu gologk. Namun, bukan untuk saling bacok.

Mereka hanya mencoba mencari pelepah pisang di lapangan itu dengan kedua golok yang baru mereka beli. Andai saja, aku tak menelan informasi yang diberikan gundul dari Cak Petis ini. ya, mungkin, aku tidak akan dihukum oleh Pak Lurah, untuk harus lewat rute yang paling jauh menuju Kantor Desa, setiap harinya, “Aduh ….”

1 thought on “Pelepah Pisang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *