Pertuni Pasuruan

Hati yang Terhempas

Foto Dani

Oleh : Rizky Ramadhani

Tok, tok, tok, suara ketukan di pintu itu seketika menyadarkan lamunanku. Sambil masih bermalas-malasan akhirnya aku memutuskan untuk bangkit dari kursi dan segera berjalan menuju pintu.

Setelah pintu terbuka, berdiri di hadapanku, seorang teman. Namanya Novan, teman masa kecilku. Ia berdiri di depan pintu, sambil mengenakan jaket coklat bermotif batik. Namun, ada yang aneh dengan batik itu. Dan yang aneh itu ada pada bagian logo di dada kananya.

Logo itu jelas adalah ikon perusahaan luar negeri ternama. Namun, kenapa mereka membuat sebuah jaket bermotif batik, yang jelas-jelas, itu adalah ikon dari negeraku.

Persetan dengan jaket Novan. Aku tidak sedang mengkritisi sesuatu seperti biasanya. Aku hanya menyambut kawan lamaku. Mungkin, sudah hamper 2 minggu, kami tak bertegur sapa, atau sekedar bertemu. Novan pun mengangkat tangannya padaku. Dan mengucapkan salam khasnya,

“Hola, hola, sudah lumayan lama ya, aku tak berkunjung ke sini.” Sapa Novan.

“Gimana Dhan jadi kerumah Amel apa tidak?” lanjutnya bertanya padaku.

Aku baru teringat. Kalau kemarin aku menghubungi Novan untuk mengajaknya ke tempat Amel. Aku kira Novan tak akan menggubrisnya, atau Novan akan membalas pesanku dengan tabiat yang ogah-ogahan. Tetapi, tanpa membalas pesanku, ia datang ke rumah dan langsung membuat shock.

Jelas saja, aku kaget, pasalnya, aku harus mengatakan itu sekarang pada Amel.  Jika tidak, tak akan ada kesempatan lain. Aku harus mengatakan, kalau aku cinta padanya sekarang, atau tidak sama sekali.

“Astaga maaf Van aku lupa kalau hari Minggu ini kita mau ke rumah Amel.”

“Ya udah buruan ganti baju sana! nanti keburu kesiangan.”

Aku mempersilahkan masuk Novan dan langsung bergegas mengganti bajuku. Aku pilih baju hitam bertuliskan, “Pohon kardus.”

Meski terdengar receh, kata-kata itu penuh pesan kritik atas lingkungan hidup yang kini mulai agak mati. Aku membelinya di salah satu temanku, yang berjualan kaos sambil mengkampanyaekan pentingnya pohon.

Oh iya, Amel adalah temanku dan Novan sejak masih kecil. Lebih tepatnya, sejak kami masih berada pada taman kanak-kanak.

Sejak dulu, aku memang memendam rasa dengan Amel. Hingga sekarang pun begitu, dan aku ingin menjadikan Amel adalah milikku.

Namun, hingga kami beranjak dewasa, aku tetap tak berani untuk mengatakan sepatah kata pun tentang cinta padanya. Entah kenapa, lidah ini serasa keluh, nafasku jadi terasa berat saat ingin bilang itu.

Aku juga sering bercerita dengan Novan tentang perasaanku kepada Amel. Selama ini, saat aku bercerita tentang Amel, Novan selalu bersikap biasa saja. Namun, ada sedikit rasa curiga dalam diriku terhadap Novan. Memang benar itu hanya asumsi, tapi jika aku bertanya langsung padanya, dan jika hal itu tak membuktikan asumsiku. , maka, aku takut, kalau-kalau persahabatan kami yang sudah terbangun sejak kami masih pipis di celana, akan hancur berantakan. Aku tak mau hal itu terjadi, makanya aku hanya memendam rasa curiga dan diam.

Kendati begitu, Novan masih belum tahu rencanaku. Biarkan saja, mungkin, sampai sana baru aku akan memberitahunya. Itung-itung membuat terapi kejut dan itu terkadang memang mengasyikan.

Baca juga :

Setelah aku berganti baju, kami berdua memutuskan untuk segera berangkat ke rumah Amel. Tapi sebelum kami berdua berangkat, Novan tiba-tiba sakit perut, dan ingin buang hajat terlebih dahulu.

“Eh, Dan, aku pinjem toiletmu dulu, perutku sakit.”

“Aduh, ok … ok … ayo agak cepat ya, aku sudah tak sabar nih,” pungkasku sambil senyum-senyum tipis.

“Gak sabar, gimana maksudmu?”

“Sudahlah, ayo cepat, nanti malah keluar di celana!”

“Baik, baik.”

.Akhirnya sambil menunggu Novan dari kamar mandi, aku memutuskan untuk melanjutkan membaca novel yang memang tadi sempat aku baca sebelum Novan datang ke rumah. Ketika aku sedang asik membaca novel, tersentak aku dikejutkan suara dering hape Novan yang diletakkan di atas meja.

Saat aku melihatnya, ternyata panggilan itu dari pacar Novan. Entahla, sejak kapan ia punya pacar? Padahal selama ini, aku telah bercerita banyak. Namun, Novan tak bercerita satu pun tentang dirinya.

Aku beranggapan seperti itu, lantaran nama kontak yang menelponnya adalah Sayang. Kalau bukan pacar, terus siapa lagi yang memanggil seperti itu.

Ada keinginan untuk menjawab panggilan itu. Tapi, di sisi lain, ada hak privasi yang harus aku junjung.

Meski begitu, keinginan itu terus muncul dalam benakku. Lantas, aku pun menjadi dilemma, dari dalam pikiranku muncul berbagai pertanyaan, pertama, aku ingin tahu siapa yang ada dalam telpon itu? Kedua, jika itu adalah hal genting, aku turut membiarkannya. Namun, sekali lagi, aku ditabrakan dengan privasi seseorang, dan itu adalah kawanku sendiri.

Panggilan itu pun terhenti. Telpon Novan yang terletak di atas mejaku, seketika hening. “Ya, sudah,” pikirku. Namun, selang 5 menit, telpon itu berbunyi lagi. Kali ini, aku memberanikan diri untuk menekan tombol gagang telpon berwarna hijau itu. Mungkin, ini adalah panggilan darurat untuk Novan.

Bisa saja terjadi sesuatu dengan pacar Novan. Sebagai kawannya, aku harus cepat tanggap.

“Halo …,” jawabku sambil mencoba menirukan logat Novan.

Dari seberang sana, muncul suara yang tak asing bagiku. Aku tahu dari caranya berbicara dan dari hempasan nafasnya.

“Halo, sayang …,” jawab Amel dengan suara lembutnya.

Mendengar itu, aku lebih terkejut dari apapun di dunia ini. aku merasa seperti seekor babi hutan, yang kaget barang mendengar suara tembakan dari sang pemburu.

“Tak mungkin,” pikirku dalam hati.

Tak mungkin Kembali aku ucapkan dalam hati. Tak mungkin, Amel dan Novan berpacaran. Padahal Novan tahu semua perasaanku. Tapi, kenapa ia tetap lakukan itu?

Setelah Novan baru keluar dari kamar mandi, aku langsung bertanya,

“Maksudmu apa sih Van diam-diam pacaran sama Amel dibelakangku? Padahal kamu kan tahu kalau aku sudah suka sama Amel sejak lama.”

“Sebelumnya aku minta maaf sama kamu Dhan, tapi aku memang tidak bisa bohong bahwa aku juga suka sama Amel,” jawab Novan padaku.

“Kalau begitu sekarang kita telpon Amel saja dan kita bertanya sama dia, siapa yang lebih dipilih diantara aku dan kamu?” tantangku kepada Novan dengan raut wajah mulai sedikit emosi.

“Baiklah, jika itu maumu, Dhan,” jawab Novan dengan raut wajah tenang.

Setelah kami menelpon Amel rasanya hatiku sangat sakit sekali, susah rasanya  menerima semua kenyataan ini, karena jelas sekali ketika di telpon tadi Amel lebih memilih Novan dari pada aku. Aku masih tidak menyangka hubungan pertemananku dengan Novan  yang sudah terjalin sejak kami masih TK tiba-tiba bisa hancur karena hanya kami mencintai perempuan yang sama.

Aku yang tadinya percaya diri, jika Amel akan memilihku, kini telah berubah. Aku serasa terhempas dari langit-langit menuju tempat yang paling bawah di dunia. Aku mengerti, kini dan selamanya, persahabatan antara kami bertiga tak akan kunjung bisa diperbaiki.

Aku layaknya pohon kardus, yang hanya sebuah pajangan dalam acara drama dan tak berarti apa-apa. Mungkin juga, aku adalah lingkungan hidup, yang semakin memucat menunggu kematiannya sendiri. Tak mudah kupercaya, sahabatku, orang yang paling ku percaya, telah merenggut hatiku hingga terhempas.

Aku memang payah. Tapi, aku mendapat satu pelajaran penting dari peristiwa yang ku alami. Jangan sekalipun percaya terhadap siapapun, bahkan terhadap teman masa kecil, yang otomatis langsung aku percaya keberadaannya.

Penulis merupakan mahasiswa jurusan Pendidikan dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Selain mengerjakan skripsinya, Dani tercatat aktif menulis di berbagai media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *