Citra Lembayung

Oleh : Dendy Arifianto

Tahun 1970.

Kejadian pagi ini tidak pernah membuat anak itu menyesal. Malah Ia sangat senang melakukannya. Ia telah melakukannya berkali-kali, di tempat yang berbeda-beda. Hanya saja, rasanya kali ini berbeda, Anak itu telah dewasa, Ia tahu kali ini Abahnya sudah pada batas kesabarannya. Namun, Anak itu tetap merasa perbuatannya tadi pagi benar.

“Kenapa kau ini?” Seorang Bapak sedang memarahi anaknya. Wajahnya tak lagi teduh bak pohon rindang. Kini, ia memelototi anaknya, meski sebenarnya, Suroso tak benar-benar tahu caranya melakukan itu. “Coba lihat, gigi rontok, hidung patah, dan muka-mukanya lebam-lebam, dan itu semua terjadi pada anak laki-laki, tidak hanya satu tiga siswa kau hajar bersamaan,  itu sangat mengerikan. Apa Abah pernah mengajarkanmu untuk menghajar anak laki-laki di sekolahmu, Lembayung?”

Mendengar gertakan Abahnya, Sontak, Lembayung kaget, Ia tidak pernah dipanggil dengan nama belakang sebelumnya.  Yang Ia tahu, Abanya hanya memanggilnya dengan Putriku atau anakku. Terkadang pula, dengan nama depannya. Tapi, kali ini berbeda. Amarah itu benar-benar diekspresikan oleh Abanya dengan sangat elegan. Namun, Lembayung telah siap menerima segala bentuk ceramah dari Abanya.

“Mereka menghina Abahh.”Lembayung menjawab sekenanya. Meski sebenarnya, Lembayung sedikit kecewa, lantaran apa yang menurutnya benar kini terlihat seperti tak bermakna di depan pikiran Abahnya. “Mereka mengejekku bahwa aku adalah anak orang buta yang tidak bisa apa-apa,” lanjut Lembayung.

“Jadi, kau percaya perkataan mereka?” pangkas Suroso.

“Tentu saja tidaakk! aku tahu Abah meski tak dapat melihat, Abah seorang musisi dan tukang pijat dan juga Abah telah merawatku hingga dewasa seperti ini.”

Dengan menahan air matanya agar tak membasahi pipi. Lembayung menegaskan itu pada Abahnya. Ia berusaha mengingat segala yang telah diberikan Abah untuknya. Namun, hal itu malah memperkeruh perasaannya. Ia tahu sekarang Abahnya telah menganggapnya seorang kriminal yang harus di adili di depan pengadilan Abahnya.

“Lantas, kenapa kau pukuli mereka, kau tahu hanya karena aku ini bersaudara dengan Kepala Sekolah, kau masih dapat bersekolah di tempat itu, tapi jika terjadi lagi Pamanmu juga tak dapat menolong kau, Lembayung mengertikah dirimu, Putriku!” seru Suroso.

“Aku tak akan menghajar para bedebah itu, jika mereka cukup berbaik hati tidak mengatakan bahwa Abah adalah budak setan dan dukun atau semacamnya di depan mataku!”

Sekuat apapun Lembayung menahan air matanya. Akhirnya, air mata itu tak dapat menahan gaya gravitasinya.

Suroso menatap kosong anaknya. Ia memang tak menatap dengan menggunakan mata layaknya orang biasa. Namun, pandangan Suroso tepat menatap anaknya lekat. Meski begitu, ia tak tahu, jika Lembayung sedang menangis. Lembayung menahan isak tangis di muka Abahnya, agar Suroso merasa senang membentak anaknya.

Mungkin dengan begitu, perasaan Suroso mulai tenang. Kemudian, seperti biasa, Suroso akan menegaskan, jika perbuatan Lembayung adalah perihal yang benar.

Sayangnya, perhitungan Lembayung salah. Suroso makin membentaknya dengan sangat keras. Sentakan itu terasa seperti kilat yang sedang menerjang bumi.

“Apa-apaan kau ini, tadi kau mengatakan bahwa Abahmu ini tidak bisa apa-apa, sekarang kau bilang mereka menganggap Abah ini pelayan setan dan dukun santet, begitu, apa kau berbohong pada Abah kali ini?” balas Aba.

Langit sore yang menahan hujan kini tak lagi dapat terbendung. Air pun turun membasahi bumi. Bebarengan dengan turun hujan, Lembayung meneteskan air mata sambil menatap nanar Abanya. Menahan isak tangisnya, Lembayung juga berteriak.

“Apa Aba tahu, mereka juga menyebut Aba itu kualat gara-gara Bapak Aba yang dulunya adalah pemberontak. Orang yang melawan negara pasti kualat kata mereka begitu dan aku tidak berbohong.”

Mendengar itu, Suroso tersentak. Amarahnya tak dapat lagi ia tahan. Bapaknya, adalah satu-satunya kenangan Suroso miliki. Ia mengerti betul perjuangan Bapaknya untuknya dan untuk negaranya. Namun, memang kadang negara bisa saja berbuat hal yang sebaliknya.

Para mantan pejuang seperti Bapaknya Suroso, dalam sepersekian detik dapat berubah dicap sebagai pemberontak. Padahal mereka tahu, siapa sebenarnya pemberontak itu.

Nasi telah menjadi bubur. Kakenya Lembayung tak pernah punya jasa baik. Ia hanya dikenal sebagai tukang onar dan pemberontak. Maka, ada anggapan, 7 turunannya adalah kualat. Dan benar saja, secara kebetulan, Suroso menerimanya.

“Jaga bicaramu terhadap Almarhum Kakekmu” teriak Aba keras.

“Bukan aku yang bilang tapi mereka” jawab Lembayung tak kalah kerasnya.

“Sudah berapa kali aku cerita, Kakekmu bukan pemberontak, Dia adalah pejuang kemerdekaan.”

“KATAKAN ITU PADA mereka!” Lembayung berteriak. Kini, ia tak kuasa menahan suaranya agar tetap terdengar sopan oleh Suroso. Lembayung tak ingin Abahnya hanya menjadi olok-olok. Lembayung ingin Abahnya berusaha membenarkan tindakannya. Hanya itu yang dapat dipikirkan oleh Lembayung untuk saat ini. Sekali lagi ia berteriak, “buktikan itu! Buktikan jika Aba bukan anak pemberontak!””

Raungan Lembayung seperti menghentikan waktu sejenak. Suroso terpelanting kembali ke masa saat ia berusia 6 tahun. Suroso menyusuri kembali masa lalunya sejenak di benaknya yang hanya terisi oleh gelap matanya.

Udara di rumah itu berubah drastis. Beriringan dengan aroma tanah yang bercampur dengan hujan. Suroso teringat peristiwa 40 tahun yang lalu.

Suara letupan seperti mercon, dan teriakan-teriakan  orang-orang yang marah dan tangisan minta tolong Emaknya membawa suasana hati Suroso tak menentu. Dalam lubuk hatinya, ia ingin melihat apa yang terjadi waktu itu, namun, Suroso adalah orang buta. Sejak dilahirkan, ia tak dapat menangkap gambaran keributan saat rumah kecilnya di datangi orang-orang asing, dengan suara langkah kaki menghentak-hentak di dalam rumah.

Hingga sekarang Suroso tetap memendam luka dalam ingatannya. suara parau Emaknya, memgiringi hidup Suroso selama ini. Hingga Putrinya satu-satunya mengingatkan kembali ke masa itu. Ia tahu selama ini, ia tidak dapat menjelaskan siapa Bapaknya dan sebenarnya bagaimana asal usul keluarganya. Suroso hanya tahu kejadian yang menimpanya dan pesan terakhir Ibunya untuk tetap percaya pada cerita-cerita tentang bapaknya.

Meski penginderaan itu terhalang sesuatu yang tak dapat digambarkan kepada siapapun. Mata Suroso tetap tak dapat menahan air matanya. Di iringi oleh tempo tetasan air hujan yang masuk ke rumah, air mata itu terus mengalir di cekungan kulit pipinya yang tirus lagi kecoklatan.

Saat ini, hal yang paling diinginkan Suroso adalah membentak anak itu. Namun, Ia sadar bahwa hanya putrinya, Citra Lembayung adalah satu-satunya kebenaran yang Ia meiliki,satu-satunya kebenaran yang mengiringinya, dan satu-satunya kebernaran yang membuatnya bertahan  setelah kepergian Bapak dan Emaknya. Bahkan, kepergian Istrinya setelah melahirkan Lembayung membuatnya yang selama ini berpikir untuk lebih keras berjalan di tengah kegelapan dunia, meski terkadang Ia harus kerepotan menjelaskan kecantikan Ibunya ketika ditanya oleh Lembayung.

Dengan bersandar pada kursi reotnya, Suroso bertanya dengan intonasi yang rendah namun tetap tajam.

“Dengar Putriku, apa yang kau inginkan?” dengan mengusap air matanya yang telah membasahi jenggotnya yang tumbuh tipis tak beraturan. Suroso melanjutkan pertanyaannya, “Abah hanyaingin kau sekolah hingga menjadi seorang Insinyur atau seorang Dokter.” Tambahnya.

Dengan kuku-kuku yang semakin memutih, lantaran Lembayung menguatkan genggamannya, ia pun berkata, “Aku hanya ingin membela Abah.”

“Kalau begitu, Bela Abamu ini dengan diammu dan teruslah bersekolah” ujar Abahnya tajam.

“Peduli apa aku dengan sarjana, jika saat ini saja aku harus diam, lagipula kenapa harus diam, orang-orang seperti itu pantas mendapat pelajaran”

Lembayung telah siap dengan seluruh konsekuensi. Ia akan tetap membela Abahnya meski Suroso tidak ingin dibela. Lembayung telah siap bahwa kata-kata yang akan terlontar dari mulutnya akan membuat hati Abanya sakit. Namun, Ia sudah tidak kuasa. Ia sangat jengkel bukan kepayang. Abahnya yang telah dibelanya menganngap dirinya berbohong dan menyuruhnya untuk diam saja.

Perihal itu yang membuat hati Lembayung ketar-ketir, bak memilih buah kurma yang manis di pedagang kurma yang sebenarnya adalah penipu, atau  seperti bertanya pada seseorang yang menjawabnya dengan pertanyaan kembali. “Kenapa harus diam saja, tidak ingatkah Aba dengan perjuangan Mbah Kakung?”

Mendengar hal tersebut diucapkan oleh mulut anaknya, Suroso meradang. Ia sontak berdiri dan berteriak menimpali tanya Lembayung, “Diam! sudah berapa kali Aba katakan, jangan berbicara seperti itu terhadap Almarhum Mbah Kakungmu.

Lembayung seketika menjadi kaku dan terdiam mendengar gelegar suara Abanya yang keras. Air mata yang mulai mengering, kini mengalir dengan deras. Ia tak menyangka Aba akan sekeras ini terhadapnya. Selama tujuh belas tahun hidupnya, Lembayung tidak pernah merasakan amarah yang sedashyat ini.

“Kalau begitu, jika Abah ingin aku diam, berdoalah agar aku buta seperti Abah, mungkin, kalau aku buta seperti Abah, dengan begitu, aku akan diam dan tak melakukan apa-apa seperti Abah, sehingga orang-orang dapat mengatakan hal buruk padaku, seumur hidupku!” teriak Lembayung.

“Gusti Allah lebih tahu siapa yang lebih pandai untuk hidup tidak melihat daripadamu, camkan itu!” seru Suroso.

“Tapi, Aba tidak akan pernah tahu rasanya sakit melihat orang yang aku sayangi harus dihina.”

AKU BENCI Abah!”

       Lembayung berlari meninggalkan Abanya sendiri di ruang tengah menuju kamarnya. Sambil terisak, Lembayung meraih gagang pintu dan menguncinya. Tak pernah Lembayung merasa seperti ini. Ia sangat membenci Abanya. Ia tak peduli harus menjadi apa kelak yang Ia tahu hanya, bagaimana menyerang orang-orang yang menhina Abanya.

Di atas kasur yang jauh dari kemewahan, Ia menangis dan menyesali sabar dan diam Abanyaterhadap orang-orang yang tidak adil kepada keluarganya.

       Setelah beberapa menit terdiam dan menangis di atas kasur. Terdengar ketukan lembut dari pintu kamarnya. Setelah itu, dengan suara lembut Suroso berucap, “Nak, Abah minta maaf jika Abah telah membentakmuu.”

Suara itu yang ditunggu oleh Lembayung. Suara dengan intonasi menenangkan, suara yang selama ini mengayomi rumah meski penuh keserdehanaan, suara yang sangat dirindukan, suara yang saat ini Lembayung akan berbuat segalanya untuk mendengarkannya. Kendati begitu, Lembayung tidak segera membukakan pintunya. Sampai akhirnya terdengar suara dobrakan yang lebih keras dari pintu depan rumahnya.

Lembayung pun sontak kaget mendengar suara itu. Selang dobrakan itu, suara seorang pria menyeruak memanggil-manggil nama Abanya.

“Suroso, di mana kau!”

Lembayung pun berdiri namun masih terdiam pada tempatnya. Ia ingin sekali membantu aAbanya melihat siapa yang datang, namun Ia ragu ada ketakutan dalam hatinya. Suara yang memanggil Abanya, bukanlah suara yang dikenalinya. Kembali lagi Lembayung tersentak dengan kengerian, kali ini suara kesakitan Abanya yang Ia dengar dari balik pintu kamarnya. Tanpa berpikir panjang, Lembayung pun berlari dan segera membuka pintu kamarnya.

Betapa kagetnyaIa ketika melihat Abanya  jatuh terlentang di hadapannya. Darah segar mengalir dari hidung mancung yang terlihat aneh. Ada gigi-gigi yang tanggal di lantai. Pipinya bengkak seperti terhantam benda tumpul. Tampak di hadapan Lembayung dua orang mengenakan jas hujan berwarna hitam sedang tertawa terbahak-bahak. Salah satunya menodongkan bedil yang sering Lembayung lihat di sebuah film yang diputar pada tanggal tertentu di televisi hitam putih di kantor Kelurahan. Ia ingat betul bentuk bedil itu, namun Ia tidak dapat mengatakan jenis dan merk senjata itu. Moncong bedil itu diarahkan tepat ke wajah Abanya yang terbaring terlentang kesakitan di lantai. Salah satu orang berjas hujan itu, berbalik kepadanya. Meski Ia tahu salah seorang itu melihat kepadanya ,namun Ia tak dapat melihat jelas wajah di balik tudung jas hujan tersebut.

“Lihat dia. Lihat gadis cantik itu, apa dia anakmu, apakah kau tahu? kau punya anak yang cantik,” kata salah seorang misterius itu.

Dengan tersengal, Suroso memohon pada orang-orang asing itu, “Jangan, jangan, Jangan bunuh putriku, aku mohon pada kalian, aku akan berikan apapun asalkan jangan sakiti Lembayung.” Suroso memohon dengan suara parauhnya. Tak jelas apa yang ia katakan. Mulutnya penuh dengan darah yang bercucur seperti air liur serigala yang merindukan mangsanya. “Nak, lari dari sini! selamatkan dirimu!”

Suroso mencoba sekuat tenaga berteriak, tapi suaranya tidak jelas dengan banyaknya darah yang keluar dari mulutnya. Hanya suara kumur yang tersiar dari mulut Suroso. Lembayung bergidik melihatnya, ia tak sanggup menonton kejadian-kejadian di depan matanya. Abahnya tak salah apapun. Dalam benak Lembayung, tak mungkin Abahnya bersalah, ia Cuma orang buta dan tak dapat berbuat apapun. Mencuri pasti langsung ketahuan, memukul pun pasti Abahnya yang di pukul duluan. Lantas, kenapa Abahnya disiksa begini?

Lidah Lembayung yang keluh ingin rasanya berteria, “jangan sakiti Abaku!” Namun, semakin Lembayung berusaha berteriak, hanya suara cegukan yang terdengar ke telinganya. Lidahnya serasa keluh. Rahang-rahannya serasa kaku. , Lembayung sangat ketakutan, badannya tak dapat ia kendalikan. Rasa-rasanya, otot-ototnya tak mau menurutinya. Tulang punggungnya seakan menegang seperti tiang listrik jalanan. terdiam sambil menatap penjahat yang melukai Abanya. Hingga salah seorang dari mereka berkata.

“habisi orang tua itu!”

Seketika suara ledakan mercon itu membangunkan Lembayung dari tidurnya. Keringat membasahi tubuh Lembayung. Ia merasa tenang bahwa yang dialami tadi adalah mimpi buruk. Sampai akhirnya Ia mencoba menegakan badan dan dilihat pintu kamarnya masih tertutup rapat. Ddipandangnya jam beker usang pemberian Abanya itu. Jam setengah dua belas. “Harusnya aku meminta maaf pada Abah, tentu saja, jika Aba belum tidur, biasanya Aba akan meminta untuk dibuatkan secangkir kopi,” pikir Lembayung.

Kembali Ia menoleh ke pintu yang tertutup rapat itu. Muncul keraguan dalam dirinya. Ada sesuatu yang menganjal di hatinya. “Tak biasanya rumah sesepi ini,” pikirnya. Lembayung selalu dengar Abanya mengorok atau jika Abanya tidak bisa tidur dia akan memainkan sulingnya, atau terkadang Aba mengobrol bersama di teras rumah sampai waktu sholat Subuh.

Kali ini, rumah sangat sepi, seperti tidak ada seorang pun di rumah itu selain dirinya. Tiba-tiba ketakutan menjalar di sekujur tubuhnya. Nafasnya terasa berat. Pikirannya kembali pada gambaran-gambaran dalam mimpinya. Abahnya terluka, banyak darah keluar dari mulutnya.

Membayangkan itu, kini Lembayung limbung. Ia yakinkan lagidirinya, “Tak mungkin,  itu hanya mimpi buruk.” Namun, perasaan mimpi itu adalah kenyataan semakin menggelitik logikanya.

Sampai akhirnya, Ia mendengar suara, bukan suara Abahnya, tapi suara seorang perempuan yang sangat familiar memangil namanya. Dengan sekali mendengarnya, Lembayung mengerti, jika ada hal yang tak baik-baik saja. Bulek Siti yang memanggil-manggil, menandakan Abahnya tak sedang berada di rumah saat ini. Namun, kenapa Abah keluar pagi buta seperti ini?

“Bukankah akan lebih berbahaya jika Abah yang tak dapat melihat berjalan-jalan di pagi yang masih menatap dengan butanya,” gumam hati Lembayung. Sontak Lembayung bergegas membuka pintu kamar dan mencari-cari pegangan di tiap tembok-tembok rumahnya yang kusam dan catnya mulai terkelupas.

Lembayung segera sadar, lantaran ia tak perlu melakukan hal itu. Pintu depannya terbuka. Namun, terbuka secara paksa, pintu itu membuka tidak pada tempatnya, sudut-sudut yang biasanya tegak seperti kartu domino, kini miring. Engselnya terlepas. , tak sesuai pintu tertutup yang biasanya menandakan ada kedamaian di dalam rumah-rumah itu. Tak butuh waktu lama untuk menyadarinya.

Rumah itu seakan dibobol maling. Namun,, yang dibawa bukanlah barang berharga. Karena, memang di rumah itu, tak ada barang yang bisa disebut beharga.

Dada Lembayung sesak. Ia tahu, ada yang hilang dari hidupnya. Tapi, semoga saja itu bukan kenyataan. Ia berharap itu Cuma ilusi. Kemudian Abahnya akan datang dan menyapanya. Lalu, mengatakan, “Nak, Abah minta maaf, tapi dengan cara yang sedikit bercanda.”

Syangnya, yang Lembayung lihat hanya Bulek Siti yang memangil-manggilnya di depan pintu yang rusak.

“Nak! Abahmu, Nak citra!Abahmu,”seru bulek Siti.

“Kenapa Abah, Bulek?” tanya Lembayung dan berharap mimpinya tak jadi kenyataan.

“Abahmu diangkut ke truk bersama Rusdi dan Karman, mereka bilang ada pembersihan dari ilmu hitam Nak, beberapa dari kami yang menghalangi dan berusaha menjelaskan bahwa Abahmu bukan seorang dukun ikut dihajar pula.” Imbuh Bulek Siti.

“Siapa mereka Bulek dan Aba dibawa ke mana?”tanya Lembayung histeris.

“Tidak tahu, mereka membawa bedil Nduk, bedil yang sangat menakutkan. Mereka yang membawa Abamu mengenakan jaket hitam dan celana jeans. Rambut mereka gundul Nduk. Mereka menangkap banyak orang di kampung sini, Rusdi dan Karman contohnya, gara-gara mereka melawan, seperti Pak Giman juga diangkut, Nak!.”

Lembayung terhayung. Matanya terhayung di pelukan Bulek Siti. Kini matanya terasa panas. Dengan terisak-isak Lembayung menyebut terus Abahnya. Dalam penuh kekalutan dan keputusasaan, Lembayung tahu bahwa mimpinya menjadi kenyataan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa hari ini adalah hari terakhir Ia melihat dan mendengar suara Suroso.

Memori kejadian itu terpatri hingga lima belas tahun setelahnya. Bagi Lembayung, Abah adalah segalanya. Mungkin, Ia tak pernah tahu Abahnya akan memaafkan dirinya. Namun, hanya satu yang Ia tahu, dirinya akan selalu meminta maaf dan mencintai Abahnya. Meski bukan seorang Dokter atau Insinyur, Lembayung mencoba jalan lain untuk tetap menjadi seorang yang dicita-citakan oleh Suroso, demi membuka batasan-batasan indera yang tidak dapat digambarkan oleh kekuasaan.

Cerpen ini pernah tayang di kartunet.com dengan judul “Citra Lembayung”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *