Pengelana

Oleh : Nofia Fridayanti

Where do we go when we die?

What is the color of blue if there isn’t a sky?

What’s the meaning of life?

What is a life if a moment can end in the blink of an eye?

Lirik lagu ciptaan salah satu musisi Indonesia yang mendunia itu mengalun melewati earphone hitamku hingga ke kedua gendang telinga. Kepalaku mengangguk-angguk  mengikuti hinga menikmati irama lagu yang berjudul “The Sailor” dengan seorang penyanyi bernama Rich Brian. Ketika kaki melangkah melewati sebuah kompleks pemakaman di ujung jalan, gerakku terhenti. Seorang penggali kubur yang kukenal tengah mengusap butir-butir keringat yang bercucuran dari dahi. Hampir seperti keran bocor. Dada di balik baju putih berlengan pendek lusuhnya kembang-kempis, terutama karena hidung dan mulutnya berbalut masker medis hijau.

Entah ada dorongan apa, kutepikan tubuh di bawah pohon beringin yang terletak tepat di tepi kompleks pemakaman. Hanya beberapa meter dari penggali kubur bernama Mardi yang merupakan tetanggaku itu. Kukeluarkan botol air minum di dalam tas, lalu kuteguk isinya yang langsung melegakan tenggorokan. Di dalam tas, ada beberapa buku tulis yang sengaja kubawa agar bisa beralasan sedang pergi untuk mengerjakan tugas kelompok. Sedari tadi, ibu beberapa kali menelepon tetapi kumatikan begitu saja.

Le, mana maskermu?” Suara serak yang dalam mengalun di telinga.

Spontan, kepalaku menoleh untuk melihat siapa yang barusan bicara. Hanya terpaut satu meter di sampingku, berdiri seorang nenek lengkap dengan masker menutupi sebagian wajahnya. Meskipun begitu, aku masih bisa mengenali wajah yang sangat familiar itu. Tubuhnya ditopang oleh tongkat kayu tua setinggi perut. Keningku berkerut karena terkejut. Tidak menyadari kedatangan nenek, juga tidak mengetahui sejak kapan nenek berdiri di sana.

“Nenek? Nenek ngapain di sini?” tanyaku tanpa bisa menyembunyikan keterkejutan dalam nada suaraku.

Muncul kerutan di pinggiran matanya yang memang sudah keriput. Menandakan bahwa dia tengah mengulum senyuman. Tanpa menjawab pertanyaan yang kulontarkan lebih dulu, nenek kembali bertanya, “Le, mana maskermu?”

Mendengar itu, aku melengos. “Gak bawa, Nek. Males. Bikin sesak napas saja.”

“Nanti kena virus, Le.” Nenek berkata dengan pelan.

“Kata Nenek hidup dan mati di tangan Tuhan. Kalau memang Tuhan berkehendak aku kena virus, ya sudah takdir to, Nek? Lagian aku masih muda, gak apa-apa gak pakai masker. Daya tahan tubuhku masih kuat.” Aku berkilah. Alasan yang kupelajari dari teman-temanku.

“Bukan begitu to, Le. Manusia wajib berusaha. Kalau ada kandang singa, apa kamu mau masuk ke sana sambil meyakini hidup mati di tangan Tuhan? Arah kita pulang memang sudah pasti, Le, tapi kita bisa berusaha memilih cara kita pulang.”

Sebenarnya, mendengar hal itu membuat darahku mendidih. Namun kali itu, aku kalah dari keheningan mencekam yang mengisi jeda kesunyian antara aku dan nenek.

Le, jangan ke mana-mana kalau ndak ada kepentingan mendesak. Jaga jarak, pakai masker,” ucap nenek. “Kamu gak cuma bertanggung jawab sama dirimu sendiri, tapi juga orang lain. Nyawa mungkin hilang karena lalaimu itu. Ingat pesan Nenek yo, Le. Selalu ingat.” Suara Nenek semakin lama semakin terdengar jauh. Aku sampai harus mencondongkan tubuh untuk menangkap kata-katanya yang sayup, “She cracked a smile and said, open your eyes.” Nenek tersenyum, terlihat dari garis matanya yang berkerut dalam.

Aku terkejut ketika kalimat bahasa Inggris itu terlantun dari bibir nenek, tapi dengan suara yang berbeda. Bukan suara nenek, melainkan suara dari musisi laki-laki yang menyanyikan lagu “The Sailor”. Kulepaskan satu earphone dari telingaku. Ketika melakukannya, tanpa sengaja mataku menangkap sosok Pak Mardi yang sudah berdiri beberapa meter di hadapanku. Ia menatap dengan sorot mata aneh.

“Ram, kamu ngomong sama siapa?” Katanya dengan kerutan bertumpuk di keningnya.

Aku berkedip. “Pak Mardi ngomong apa, sih? Sama nenek …“

Ketika kepalaku menoleh ke tempat nenekku seharusnya berada, tak kutemukan siapa pun di sana. Nenek menghilang tanpa kuketahui seperti ketika dia datang tanpa permisi.

Pak Mardi memandangku menyelidik. “Ngobrol sama nenekmu gimana, lha wong dari tadi telingamu ditutupi itu.” Pak Mardi menunjuk earphone-ku. “Bapak panggil juga kamu gak dengar.” Dengan hati-hati, Pak Mardi bertanya, “Ram, kamu belum tahu?”

….. are you talking about? I can see just fine.

No mister, she said, but can you answer this question of mine?

Masih terdengar lantunan lagu itu dari salah satu telingaku yang masih terpasang earphone. Lama, kutunggu jawaban dari Pak Mardi yang tak kunjung datang.

Akhirnya, aku mengalah. Kuputuskan melemparkan pertanyaan itu. “Tahu apa, Pak?”

Dengan ragu-ragu, akhirnya laki-laki paruh baya di hadapanku itu membuka mulutnya, “Nenekmu meninggal. Sejam yang lalu di rumah sakit. Katanya terkena Covid, Ram. Ini yang Bapak gali kuburan untuk nenekmu. Kamu juga harus isolasi mandiri-“

Suara Pak Mardi mendadak raib begitu saja dari indera pendengaran. Mataku mendadak berkunang. Sebelum semuanya menghilang, hanya lirik lagu itu yang terus menjejali telinga.

Where do we go when we die?

***

Penulis adalah mahasiswi tingkat akhir, jurusan Sosiologi di Universitas Brawijaya Malang. Saat ini sedang magang di Komunitas Peduli Inklusi Nusantara (Kopinus) dan berharap bisa lulus tepat waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *