Mencoba Mengenal Tuli dan Bahasa Isyaratnya

Oleh : Nur Khasanah

Saya baru sadar. Kalau ada hal penting yang sangat dibutuhkan. Namun, lantaran saya tidak tahu, dampaknya bisa fatal. Salah satu contohnya, bahasa isyarat.

Mungkin banyak orang tidak tahu termasuk saya, jika bahasa isyarat itu sangat penting bagi mereka, orang dengan gangguan pendengaran atau tunarungu. Namun, saya lebih suka menyebutnya dengan tuli. Karena ada beberapa dari kawan-kawan lebih nyaman disebut tuli ketimbang tunarungu.

Perihal itu lantaran tuna berarti tidak punya dan rungu artinya pendengaran. Meskipun mereka tak dapat mendengar, mereka masih terkadang punya sisa pendengaran, atau bisa dibilang tak mmutlak hening. Makanya, di antara mereka ada yang lebih nyaman di identifikasi sebagai tuli.

Selain itu, ada yang mengatakan jika pengertian :”Tuna” adalah rusak. Hal itu memiliki makna lebih dekat dengan sesuatu atau barang. Makanya, beberapa orang-orang tuli tidak sependapat dikatakan rusak. Lantaran hal itu merujuk pada suatu benda.

Padahal sudah jelas, difabel apapun keunikannya adalah manusia. Maka, seharusnya penggunaan kata-kata yang kurang manusiawi harusnya dihapuskan atau setidaknya di-musiumkan.

Itu sekedar pengetahuan dasar saja yang saya ketahui. Tapi, yang lebih penting adalah cara berkomunikasi dengan mereka.

Bukan rahasia umum, ketika seorang tuli berinteraksi dengan lingkungannya mereka menggunakan bahasa isyarat. Karenanya juga, kalau saya tidak memahami bahasa itu, artinya hak mereka mendapat informasi dan interaksi dengan saya akan terputus. Ini baru saya, bayangkan saja, jika yang lain ikut-ikutan. Tentunya kesempatan para tuli mendapatkan haknya akan bertambah sempit.

Bahasa isyarat merupakan bahasa yang dipergunakan orang tuli untuk berkomunikasi. Tentu, lantaran kecenderungan mereka adalah visual, bahasa itu menciptakan suatu gestur tubuh untuk mengisyaratkan sesuatu yang dikehendakinya.

Di Indonesia sendiri terdapat 2 jenis bahasa isyarat. Pertama adalah Bisindo, dan kedua adalah Sistem Bahasa Isyarat Indonesia atau yang biasa dikenal dengan SIBI.

Bisindo adalah bahasa isyarat yang berasal dari bahasa ibu. Sedangkan, SIBI merupakan bahasa isyarat yang mengadaptasi Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

Saya mengetahui hal tersebut, ketika saya magang di Komunitas Peduli Inklusi (Kopinus). Di situ saya menemukan aktifitas baru selain magang. Aktifitas itu adalah belajar bahasa isyarat.

Callan, seorang tuli yang juga merupakan mentor saya waktu itu, mengajari saya berbagai macam bahasa isyarat dasar. Contohnya, abjad dan bahasa isyarat lainnya. Selain itu, Callan juga mengajari bahasa isyarat yang berhubungan dengan Covid-19 dan kemerdekaan. Nah, coba kita bayangkan, betapa pentingnya bahasa isyarat terutama ketika masa pandemi seperti ini. Kalau kita mengerti cara berkomunikasi dengan mereka, tentu protokol kesehatan dapat tersampaikan langsung kepada mereka. Setidaknya, kita dapat memberikan ikut turut serta menghalangi transmisi virus tersebut kepada mereka.

Untuk belajar bahasa isyarat, kita tak boleh sembarangan. Harus langsung kepada tuli. Lantaran, jika kita ssembarangan belajar, nanti akan berpengaruh pada bahasa isyarat yang mereka gunakan.

Untuk antisipasi saja, jika ada seseorang yang bukan tuli terus ngarang-ngarang bahasa isyarat. “Itu kan bisa bahaya!”

Ketika saya memperlajari bahasa isyarat, ada hal baru yang saya dapatkan. Ternyata belajar bahasa isyarat tak semudah yang saya bayangkan. Untuk bisa mengerti seperti para juru bahasa isyarat. Mereka telah rutin melakukannya setiap hari.

Jelas, semua tahu, bahasa adalah ilmu terapan. Jadi, dibutuhkan waktu yang lama untuk melekatkannya di pikiran. Sehingga, nantinya untuk menggunakan bahasa isyarat, kita dapat melakukannya tanpa berpikir.

Sebenarnya, untuk lebih mudah belajar bahasa isyarat adalah dengan terus berinteraksi dengan tuli. Mungkin, awal akan terasa canggung. Tapi lama-lama akan terbiasa juga.

Selain itu, ketika kita masih awam dengan bahasa isyarat, tentu interaksi di awal akan terasa canggung. Pasti semua non-difabel yang tak pernah bertemu deifabel akan merasa seperti itu.

Sayangnya, beberapa dari kita malah diam atau pura-pura tak tahu kalau ada difabel di sekitar kita. Apalagi seorang tuli. Mereka terkadang tersamarkan dari penglihatan, kecuali ketika mereka menggunakan bahasa isyaratnya.

Akibatnya, untuk saling berkenalan akan terhambat dan kita berpotensi menambah ketidaknyamanan bagi mereka. Paling gampang, coba bayangkan saja, anda sedang menjual makanan dan kebetulan seorang tuli datang ke toko anda. Tapi, lantaran anda tidak bisa menggunakan bahasa isyarat dan tidak kreatif mencoba cara-cara yang mduah diakses bagi tuli.  Jelas, barang dagangan anda tidak akan dibeli, atau mungkin dibeli tapi orang tuli tersebut, tidak akan datang lagi ke toko anda. Kalau sudah begitu, maka bisa dibilang toko yang anda kelola tidak inklusif.

Inklusif sendiri berarti membuka kesempatan bagi semua orang untuk mendapatkan perlakuan yang sama. Tanpa terkecuali bagi difabel, khususnya difabel tuli. Tentu membangun suatu masyarakat membutuhkan tenaga dari pelbagai pihak. Tak mungkin saya sendiri dapat melakukannya.

Seperti yang saya contohkan dengan analogi toko. Tentunya, tak hanya orang yang berjualan saja yang perlu tahu tentang bahasa isyarat. Seluruh elemen masyarakat perlu tahu belajar bahasa isyarat.

Untuk itu, sebuah komunitas seperti Kopinus dan organisasi penyandang difabel juga perlu di-replika keberadaannya. Agar kampanye mengenai bahasa isyarat dan tuli, kalau perlu tentang seluk beluk difabel dapat tersampaikan ke masyarakat.

Semakin banyak orang atau kelompok concern terhadap isu tersebut, semakin pula hak dan kebutuhan para difabel khususnya tuli akan diketahui. Maka, dengan begitu, arah kebijakan akan semakin mendekati kata sempurna bagi mereka, para difabel tuli. Kalau sudah begitu, pelayanan publik bagi mereka akan terasa inklusifnya.

Penulis adalah mahasiswa tingkat akhir, di sebuah Universitas di Kota Malang. Senang dengan bahasa isyarat, tapi hanya menguasai yang dasar saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *