Solusi Bagi tunanetra Yang Ingin Kursus bahasa Inggris

Oleh : Eka Pratiwi taufanti

pelbagai alasan dapat terpikir ketika sedang malas. Wabil khusus dalam belajar bahasa. Padahal kemampuan ini sangat dibutuhkan. Apalagi dalam dunia kerja.

Contoh, semisal ada seorang tunanetra yang bekerja dalam dunia pariwisata. Paling tidak berkomunikasi dalam bahasa internasional itu mutlak diperlukan. Bayangkan saja, ketika memijat atau ketika sedang menjadi telemarketing,  ternyata lawan bicara kita adalah adalah orang asing. Tentu hal itu akan menjadi pengalaman yang pahit.

Pasti kita Cuma “A … O … sambil menunjuk sesuatu yang kita jelas tidak tahu.”

Agar tak mengalami pengalaman memalukan seperti itu. Alangkah baiknya, kita sebagai tunanetra belajar bahasa salah satu bahasa internasional seperti Bahasa Inggris. Setidaknya dasarnya saja mengerti dulu. Lalu, kalau pun perlu ditingkatkan agar dapat ke luar negeri, tentu hal itu bukanlah mimpi belaka. Asalkan mau mengejarnya!

Banyak platform yang dapat diakses untuk saat ini. Semisal Youtube. Dalam platform tersebut, terdapat banyak materi tentang belajar Bahasa Inggris. Tapi, tidak semua orang tunanetra dapat belajar mandiri.

Maka, butuh seorang mentor yang benar-benar ahli di bidang itu. Tidak hanya di bidang bahasanya, namun juga mengerti cara mengajar seorang tunanetra.

Bukan bermaksud mendiskreditkan orang lain atau sombong jika yang mengerti tunanetra hanya saya. Masalahnya, mengajar tunanetra memang paling bisa dipahami juga jika diajar seorang tunanetra. Contoh, semisal orang awas yang mengajar, materi-materi atau cara mengajarnya belum tentu aksesibel bagi tunanetra. Karena, maklumlah, di Indonesia sendiri meski disabilitas lagi naik-naiknya. Namun, masih banyak yang belum mmemahaminya.

Kalau sudah begitu, transformasi pengetahuan antara guru dan muridnya akan terhambat. Kalau sudah terhambat, proses belajar-mengajar akan menjemuhkan. Kemudian, hal itu akan membuat peserta didik tidak nyaman.

Belum lagi, masalah malu ketika seorang tunanetra belajar dengan orang awas. Biasanya memang ada tunanetra yang masih merasa kurang percaya diri ketika kelas belajarnya dicampur dengan orang awas. Hal itu terjadi lantaran memang, dunia ini sudah terpisah dan digolong-golongkan kelasnya sejak dahulu kala. Sehingga, kurang interaksi dengan lingkungan sekitar bisa membuat kurang nyaman.

Ditambah , kultur-kultur yang menganggap para disabilitas itu orang suci, ada pula yang menganggap perlu dikasihani, ada juga yang menganggap sakit, kena kutukan karma, ilmu hitamm dan kelenik sebagainya. Ketika dianggap seperti itu, itu sama saja menganggap kualitas seorang tunanetra sebagai manusia akan menurun. Padahal tunanetra juga mempunyai kualitas layaknya manusia yang lainnya. Hanya saja, lantaran kami tidak melihat, tentu kami butuh cara-cara lain untuk melakukan pekerjaan kami sebagai tunanetra.

Pandangan-pandangan sperti itu akan berdampak negatif terhadap tunanetra. Nah, terkadang hal itu akan berakibat penolakan. Contoh, salah seorang kawan saya pernah bercerita kalau dirinya ditolak di suatu lembaga kursus Bahasa Inggris. Hal itu lantaran lembaga tersebut tidak mengerti caranya berurusan dengan tunanetra. Dengan begitu, seharusnya fasilitas bagi mereka yang seharusnya ada jadi terhambat.

Sebetulnya, aksesibilitas tak melulu identik dengan infrastruktur fisik. Kesadaran terhadap disabilitas itu juga merupakan sebuah aksesibilitas , aksesibilitas non-fisik tentunya.

Ketika sadar sebuah lembaga tersebut akan mengusahakannya walaupun tidak secara sistemik. Tapi, hal itu akan membantu si tunanetra mendapatkanf hak pendidikannya dalam belajar.

Meski begitu, tak perlu khawatir. Kalau ada jalan pasti ada kemauan. Makanya ada English Mate buat kalian semua. Tidak hanya yang tunanetra saja yang awas juga boleh ikut.

English Mate adalah sebuah tempat belajar bahasa inggris. English Mate menawarkan sejuta keasyikan belajar bagi kalian semua. Dijamin tempat belajar ini ramah buat tunanetra. Tidak kalah pentinya, mentornya adalah lulusan dari perguruan tinggi Australia.

Ada kelas gratis, ada kelas yang grup, dan ada pula kelas yang private. Semuanya ada di English Mate. Kalau mau yang private, cukup dengan 100 ribu kamu sudah bisa belajar Bahasa Inggris. Kalau mau yang gratis juga bisa kalian pilih. Semuanya tergantung budget kalian masing-masing. Nah, program belajar juga variative. Mulai dari conversation, grammar, pendampingan materi kuliah dan sekolah, sampai persiapan TOEFL dan Ielts, semuanya bisa.

Pembelajaran bisa dilakukan online dan tatap muka. Buat kalian yang tinggal di Kota Pangkal Pinang dan sekitarnya, bisa banget datang langsung. Tapi buat yang jauh, bisa juga kok online. Pembelajaran online juga flexible, bisa via WA call, Google Meet atau pun Skype.

Buat yang minat, please kontak aja di Instagram @eka_taufanty

Leave a Reply

Your email address will not be published.